IKNPOS.ID – Dinamika aksi unjuk rasa 21 April di Kalimantan Timur ternyata tidak hanya menyasar kebijakan sang kepala daerah, namun juga melebar hingga ke lingkaran terdalam keluarga gubernur.
Di tengah riuh rendah orasi di depan kantor pemerintahan, sosok Istri Gubernur Kaltim secara khusus “disentil” oleh massa aksi.
Demonstran menggambarkan perilaku di ruang digital yang dianggap tidak mencerminkan sikap pejabat publik yang terbuka terhadap kritik, terutama terkait aksi maraknya pemblokiran akun media sosial warga yang mencoba menyampaikan aspirasi.
Bagi para pengunjuk rasa, media sosial seharusnya menjadi jembatan dialog interaktif antara pemimpin, keluarga pejabat, dan rakyat. Namun, tindakan memutus akses komunikasi melalui fitur blokir dinilai sebagai simbol “alergi kritik” yang mengizinkan citra pemerintah.
Sentilan ini muncul sebagai bentuk mengecewakan atas hilangnya kanal-kanal aspirasi yang seharusnya bisa diakses dengan mudah oleh kaum muda dan mahasiswa di era digital 2026 ini.
Orator aksi menegaskan bahwa setiap individu yang berada di lingkaran kekuasaan harus siap menghadapi konsekuensi logistik dari pengawasan publik, termasuk di dunia maya.
Peringatan Hari Kartini di Samarinda diwarnai kritik terbuka terhadap ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi. Dalam aksi unjuk rasa 214 di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Selasa (21/4/2026), sejumlah aktivis perempuan menyuarakan tuntutan terkait hak perempuan, kebebasan berpendapat, hingga keterbukaan pejabat publik terhadap kritik.
Salah satu orator, Radika Darmawan, yang mewakili kelompok Perempuan Melawan dan inisiator Kartini Muda, tampil menyampaikan pidato bernada tajam di hadapan massa aksi. Ia menegaskan bahwa momentum Hari Kartini seharusnya dimaknai sebagai keberanian perempuan untuk bersuara atas berbagai persoalan publik.
“Hari ini Selasa, 21 April 2026, sebelum matahari terbit kami para perempuan bangun untuk menunaikan kewajiban sebagai istri dan ibu dari anak-anak Ibu Pertiwi di Bumi Etam. Dan sekarang saya berdiri di sini bersama wanita-wanita hebat untuk menyuarakan keadilan, menuntut hak pekerja dan kebebasan berpendapat,” ujarnya lantang diatas mimbar orasi.