Home News Blokir Media Sosial Jadi Bumerang! Istri Gubernur Kaltim ‘Disentil’ Massa Aksi 21 April Terkait Ruang Dialog
NewsPemerintahan

Blokir Media Sosial Jadi Bumerang! Istri Gubernur Kaltim ‘Disentil’ Massa Aksi 21 April Terkait Ruang Dialog

aspirasi perempuan kaltim

Share
Dinamika aksi unjuk rasa 21 April di Kalimantan Timur ternyata melebar hingga ke lingkaran terdalam keluarga gubernur.
Dinamika aksi unjuk rasa 21 April di Kalimantan Timur ternyata melebar hingga ke lingkaran terdalam keluarga gubernur.
Share

Dalam orasinya, Radika juga menyinggung pengalamannya di media sosial yang menurutnya dibatasi setelah dirinya diblokir akun milik istri gubernur Kalimantan Timur, Syarifah Suraidah. Ia menilai tindakan tersebut menutup ruang komunikasi yang seharusnya dapat dibangun secara terbuka.

“Karena saudara-saudara saya masih diblok oleh ibu gubernur kita, tanpa ada alasan yang jelas dan tanpa upaya tabayun,” tegasnya.

Nada orasi semakin tegas ketika ia menyuarakan kritik terhadap kepemimpinan daerah di bawah Rudy Mas’ud dan Seno Aji.

“Mereka pantas untuk dimakzulkan. Saya perempuan dan merayakan Hari Kartini dengan bersuara. Selamat Hari Kartini, kawan-kawan!”

Usai orasi, Radika menjelaskan bahwa polemik tersebut berawal dari konten-konten yang ia buat sebagai seorang kreator fashion. Ia mengaku sering membuat video yang terinspirasi dari gaya berpakaian Syarifah yang dinilainya unik.

“Sebenarnya saya tuh suka sama fashion beliau. Beliau itu nyentrik dan punya karakter. Saya sebagai fashion enthusiast justru tertarik membahas itu,” terangnya.

Namun, respons publik yang beragam terhadap kontennya membuat situasi berkembang di luar kendali. Beberapa videonya viral dan memicu komentar luas, bahkan hingga menjadi perbincangan di tingkat nasional.

“Komentarnya itu banyak banget yang menyinggung. Bukan cuma media di Kaltim, tapi sudah sampai media nasional. Ada yang menyebut ‘noni-noni Belanda’ dan lain-lain,” jelasnya.

Radika menegaskan bahwa dirinya tidak pernah berniat menyerang secara personal. Ia justru ingin membuka ruang diskusi, termasuk mencoba berkomunikasi langsung melalui media sosial.

“Saya tag terus, saya pengen tabayun. Saya pengen ketemu, diskusi, apa sih yang mau didengar dari saya, aspirasi dari masyarakat. Tapi nggak bisa. Saya diblok,” ungkapnya.

Menurutnya, pemblokiran tersebut tidak hanya dialami dirinya, tetapi juga beberapa kreator lain.

“Nggak cuma saya. Ada beberapa content creator juga yang diblok sama beliau.”

Ia menyayangkan langkah tersebut karena dinilai menutup ruang dialog yang seharusnya bisa menjadi jembatan antara publik dan figur pejabat.

Share