Home News Sekolah Elite ala Prabowo untuk Anak Miskin
NewsPendidikan

Sekolah Elite ala Prabowo untuk Anak Miskin

Share
Sekolah Rakyat
Sekolah Rakyat gagasan Presiden Prabowo Subianto.
Share

Wakil Kesiswaan, Nizham Faiz Ghazali menambahkan program ini membuka fakta banyak anak membutuhkan perhatian khusus.

“Bagi saya pribadi, ini bukan hanya soal menjadi pendidik. Tapi tantangan besar untuk berkontribusi pada Indonesia Emas 2045,” imbuhnya.

Sekolah Rakyat ini mengembalikan harapan dan membuka jalan bagi anak-anak Indonesia. Terutama bagi mereka yang membutuhkan meraih masa depan yang lebih baik.

Bukan Hanya Belajar, tapi Berubah

Sekolah Rakyat mengadopsi konsep boarding school atau sekolah asrama. Mirip dengan sistem di pesantren atau program diterapkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Model ini dipilih karena memungkinkan siswa mendapatkan pendidikan dan pengasuhan yang intensif.

Selama di sekolah, para siswa tidak hanya belajar. Tetapi menjalani rutinitas terstruktur. Membentuk karakter, disiplin, dan spiritualitas.

Para siswa menjalani hari dengan jadwal padat. Dimulai sejak subuh. Setelah salat berjamaah dan tadarus, siswa wajib mengikuti olahraga dan sarapan.

Lalu dilanjutkan dengan kegiatan belajar di kelas hingga sore. Aktivitas diisi dengan ekstrakurikuler yang beragam.

Mulai teater, tari tradisional, hingga futsal. Malam harinya, ada penguatan materi literasi, numerasi, bahasa Inggris, dan pendidikan keagamaan.

Rutinitas ini, lanjut Ratu, meski sempat membuat beberapa siswa awal mengundurkan diri karena belum terbiasa, terbukti berhasil membentuk pribadi yang disiplin.

“Yang menggantikan justru bisa lebih cepat beradaptasi dan betah tinggal di sini,” papar Ratu, menekankan tingginya antusiasme masyarakat.

Seleksi Berbasis Kesejahteraan, Bukan Nilai Akademik

Salah satu keunikan Sekolah Rakyat adalah kriteria penerimaannya. Tidak seperti sekolah pada umumnya yang menyeleksi berdasarkan nilai akademik.

Sekolah Rakyat fokus pada kondisi ekonomi. Siswa dipilih dari keluarga dengan kategori desil 1 dan 2, yang terdaftar di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) Kementerian Sosial.

Hal ini memastikan program ini benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan. “Jadi, tidak ada seleksi berdasarkan nilai akademik,” tegas Ratu Mulyanengsih.

Share
Related Articles
News

KAT Kawal Eksekusi Eks Hotel Anggrek Ambon, Soroti Riwayat Lahan hingga Perkara Pidana

IKNPOS.ID - Rencana eksekusi lahan eks Hotel Anggrek di kawasan Batu Gajah,...

News

Tolak Perkum untuk Jegal Gus Yusuf, Ini 7 Poin Sikap Aspirasi Muda Nahdliyin

JAKARTA- Aspirasi Muda Nahdliyin menyatakan sikap menolak penggunaan Peraturan Perkumpulan (Perkum) sebagai...

air limbah
News

Miris! Akses Air Limbah dan Sanitasi Indonesia Terendah di ASEAN

IKNPOS.ID - Kualitas akses layanan air minum dan pengelolaan air limbah yang...

buruh tambang kaltim
News

Imbas Ketidakpastian Perpanjangan IUP: 15 Ribu Buruh Tambang di Kaltim Terancam Jadi Pengangguran

IKNPOS.ID – Ketidakpastian perpanjangan Izin Usaha Pertambangan (IUP) mulai berdampak luas terhadap...