“Mungkin secara umum daya beli memang sedang menurun, tetapi di Realme kami mengalami peningkatan market share,” klaim Krisva tanpa menyebut data dan angkanya. “Salah satu alasannya adalah karena kami berhasil menghadirkan produk yang sesuai kebutuhan pengguna,” tambah Krisva.
Pangsa pasar Realme di Indonesia saat ini bisa dibilang sulit diketahui dari laporan terbuka yang dirilis firma riset.
Berdasarkan laporan pasar ponsel global IDC dan Counterpoint Research untuk kuartal I-2026, misalnya, Realme tak masuk ke dalam lima besar daftar ponsel terlaris di dunia, dan masuk ke dalam kategori “merek lainnya”.
Di IDC dan Counterpoint Research, gabungan merek ponsel lain tercatat memiliki penurunan pengiriman (shipment) mencapai 4 dan 10 persen, dengan penurunan pangsa pasar sekitar 1 persen lebih rendah dari sebelumnya.
Kembali lagi ke durability, selain fitur ini, Realme juga tetap menyematkan berbagai fitur lainnya, seperti fitur kecerdasan buatan (AI), di ponsel yang mereka bawa ke Indonesia, termasuk Realme C100 Series.
Namun, AI dan spesifikasi, seperti chipspet, kamera, dkk tidak menjadi fokus utama dalam pemasaran produk entry-level ini.
“AI sebenarnya tetap ada di produk ini. Kami menghadirkan cukup banyak fitur AI yang diturunkan dari Realme Number Series. Namun, fitur ini tak menjadi highlight dari Realme C100 Series,” pungkas Krisva.