IKNPOS.ID – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Samarinda kembali mencatatkan langkah-langkah inovatif dalam proses pelatihan warga binaannya.
Kali ini, Lapas tidak hanya fokus pada pembersihan diri dari ketergantungan zat terlarang, tetapi juga mengintegrasikan para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) ke dalam strategi rantai pasok Makan Bergizi Gratis (MBG).
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas II A Samarinda, Kalimantan Timur, mulai membangun fasilitas dapur khusus guna menggarap ekosistem program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan melibatkan peran aktif dari warga binaan pemasyarakatan (WBP).
“Kami berpartisipasi seratus persen dalam mendukung program prioritas pemerintah ini sebagai wujud pengabdian untuk membantu pemenuhan kebutuhan pangan,” kata Kepala Lapas Narkotika Kelas II A Samarinda Puang Dirham di Samarinda, Jumat.
Upaya ini, menurut dia, ditujukan untuk mengakomodasi kebutuhan distribusi makanan bagi kelompok sasaran di wilayah Samarinda, khususnya dalam cakupan area sekitar lapas.
Termasuk juga para warga binaan juga bakal diberikan pelatihan khusus sebagai penjamah makanan berstandar secara intensif yang didampingi Dinas Kesehatan setempat.
Membangun Kemandirian Melalui Produk Berkualitas
Program ini dirancang untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan di mana WBP dilatih secara profesional untuk mengelola bahan pangan, mulai dari sektor hulu hingga hilir.
Melalui keterampilan yang diajarkan, para warga binaan kini mampu menghasilkan produk pangan berkualitas yang memenuhi standar gizi nasional. Inisiatif ini membuktikan bahwa tembok penjara bukan penghalang untuk memberikan kontribusi nyata bagi penyediaan gizi masyarakat luas.
Sertifikasi dan Standarisasi Profesi
Pihak Lapas memastikan bahwa keterlibatan WBP dalam ekosistem MBG ini didampingi oleh tenaga ahli. Pelatihan yang diberikan mencakup higienitas sanitasi, teknik pengolahan pangan, hingga manajemen distribusi.
Dengan bekal sertifikasi ini, para WBP memiliki modal berharga untuk kembali ke masyarakat sebagai tenaga kerja yang kompeten dan produktif setelah masa pidana mereka berakhir.