IKNPOS.ID – Dinamika politik di Kalimantan Timur kembali memanas setelah munculnya reaksi keras dari internal partai terhadap salah satu tokohnya, Rudy Mas’ud.
Gerindra Kaltim secara terbuka melayangkan kritik pedas terkait pernyataan Rudy yang menggunakan analogi diri dengan lingkaran terdekat Presiden.
Pernyataan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) dalam sebuah wawancara yang beredar luas menuai respons keras dari internal Partai Gerindra. Anggota DPRD Kaltim Komisi II dari Fraksi Gerindra, Andi Muhammad Afif Rayhan Harun, menilai pernyataan tersebut tidak hanya keliru, tetapi juga melanggar etika publik.
Andi Afif menyebut perbandingan yang disampaikan gubernur sebagai bentuk distorsi logika yang berbahaya. Sebelumnya Rudy Mas’ud sempat menyamakan posisinya dan Hijrah Mas’ud seperti posisi Presiden Prabowo Subianto dan Hashim Djojohadikusumo.
Sebagaimana diungkapkan, langkah ini dinilai sebagai bentuk komunikasi politik yang tidak etis dan justru mencederai marwah partai di mata masyarakat.
Etika Komunikasi di Ujung Tanduk
Partai Gerindra Kaltim menegaskan bahwa setiap kader harus fokus pada kapabilitas pribadi dan kerja nyata di lapangan, bukan sekedar mencari legitimasi dengan menyandingkan diri pada figur-figur besar di lingkaran kekuasaan pusat. Analogi yang dibangun oleh Rudy Mas’ud dianggap melompat terlalu jauh dan tidak memiliki landasan kontekstual yang kuat, sehingga terkesan dipaksakan demi kepentingan elektoral semata.
“Enggak etis. Itu distorsi logika dan penyesatan etika publik. Tidak pantas dan sangat fatal konsekuensinya, apalagi di tengah kondisi Kaltim yang sedang panas,” tegasnya katanya saat diwawancarai pada Jum’at, (24/4/2026).
Ia menyoroti pernyataan gubernur yang membandingkan posisi salah satu figur daerah dengan relasi keluarga Presiden. Menurutnya, analogi tersebut tidak tepat dan cenderung menyesatkan.
“Bu Hijrah itu masuk dalam struktur pemerintahan, dalam TGUPP, dilantik dan ditunjuk oleh gubernur. Sementara Pak Hashim tidak pernah masuk ke dalam struktur pemerintahan,” ujarnya.