IKNPOS.ID – Menjelang senja di Ibu Kota Nusantara, suasana berbeda terasa di kawasan inti pusat pemerintahan. Musik mengalun, suara penonton bergema, dan sebuah pesan sederhana menguat di tengah keramaian: keberagaman bukan sekadar slogan, tetapi nyata hadir dan dirayakan bersama.
Konser Road to 165 Tahun Huria Kristen Batak Protestan menjadi salah satu momen yang memperlihatkan bagaimana IKN mulai menemukan jiwanya sebagai ruang pertemuan berbagai identitas. Bukan hanya panggung hiburan, tetapi ruang sosial yang mempertemukan budaya, latar belakang, dan cerita dari berbagai penjuru Indonesia.
Harmoni Budaya di Tengah Kota Baru
Di Amphitheater Plaza Seremoni kawasan inti IKN, ratusan pengunjung berkumpul. Mereka datang dari berbagai latar, mulai dari aparatur sipil negara, pekerja proyek, hingga masyarakat umum yang ingin menikmati suasana berbeda di ibu kota masa depan.
Lantunan musik dari para seniman Batak seperti Marsada Band, Osen Hutasoit, Dorman Manik, Rany Simbolon, hingga Maria Calista bersama Simbolon Band, menciptakan atmosfer yang hangat dan inklusif. Lagu-lagu yang dibawakan tidak hanya berasal dari tradisi Batak, tetapi juga lagu nasional yang akrab di telinga masyarakat luas.
Di tengah irama tersebut, batas-batas identitas seolah mencair. Penonton bernyanyi bersama, bertepuk tangan, dan larut dalam suasana yang sama. Tidak ada sekat, tidak ada jarak.
IKN Tidak Hanya Soal Infrastruktur
Kehadiran konser ini menjadi penanda bahwa pembangunan IKN tidak hanya berfokus pada fisik semata. Lebih dari itu, kota ini mulai dirancang sebagai ruang hidup yang memiliki dimensi sosial dan budaya.
Ketua Umum Panitia 165 Tahun HKBP, Effendi Simbolon, menyampaikan bahwa kehadiran konser di IKN bukan sekadar agenda seremonial. Ia melihat IKN sebagai titik penting dalam perjalanan nasional.
Ia menyatakan bahwa seluruh perhatian Indonesia kini mengarah ke kawasan ini, sehingga rangkaian konser yang digelar di berbagai kota terasa belum lengkap tanpa kehadiran di IKN. Ia juga mengapresiasi perkembangan pesat serta penataan kota yang dinilai luar biasa.
Pandangan tersebut mencerminkan bagaimana IKN mulai diposisikan bukan hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga sebagai simbol arah baru Indonesia.