IKNPOS.ID – Presiden Prabowo Subianto menyoroti fenomena impor sejumlah komoditas yang sebenarnya melimpah dan berkualitas di dalam negeri. Ia mengaku heran Indonesia masih mendatangkan produk olahan kopi dan cokelat dari luar, padahal bahan bakunya tersedia dengan kualitas unggulan.
Hal tersebut disampaikan Prabowo dalam diskusi bersama jurnalis dan ekonom terkait hilirisasi dan industrialisasi yang digelar di kediaman pribadinya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sebagaimana dikutip dari keterangan resmi Badan Komunikasi Pemerintah RI.
“Kita punya kopi, cokelat terbaik, tetapi kita impor Starbucks, Nestle, Nescafe. Kita punya cokelat terbaik, tetapi kita impor KitKat, kita makan Cadbury, ya kan,” kata Presiden Prabowo saat berdiskusi membahas hilirisasi dan industrialisasi dengan beberapa jurnalis dan ekonom di kediaman pribadinya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pekan ini, sebagaimana dikutip dari siaran resmi Badan Komunikasi Pemerintah RI yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Menanggapi kondisi tersebut, Presiden menegaskan bahwa pemerintah akan memperkuat kebijakan hilirisasi dan industrialisasi terhadap berbagai komoditas unggulan nasional.
Ia juga memperkenalkan konsep “pohon industri” sebagai pendekatan baru dalam pengelolaan sumber daya, yang akan diterapkan pada berbagai sektor seperti logam, mineral, hingga komoditas perkebunan seperti kelapa, kopi, dan cokelat.
Menurut Prabowo, langkah hilirisasi menjadi kunci penting dalam menciptakan nilai tambah sekaligus membuka lapangan kerja yang lebih berkualitas bagi generasi muda.
“Saya ingin hilirisasi. That’s the only way. Kita tidak boleh ekspor bahan mentah lagi. Kita harus mengolah bahan mentah itu menjadi turunan-turunan produk industri yang bernilai tinggi,” ujar Presiden Prabowo dalam acara bertajuk “Presiden Prabowo Menjawab”.
Lebih lanjut, ia mencontohkan potensi besar komoditas kelapa yang dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal di dalam negeri.
“Kelapa saja dianggap (sebagai) miracle crop. Virgin coconut oil, itu dianggap anticancer, tetapi kita baru punya satu-dua pabrik kelapa. Selama ini kita ekspor kelapa gelondongan,” kata Presiden.