IKNPOS.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dirancang pemerintah dengan anggaran sekitar Rp1,2 triliun per hari kini dihadapkan pada tantangan kondisi ekonomi global, khususnya potensi kenaikan harga minyak dunia yang dapat menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah tengah melakukan simulasi terhadap berbagai kemungkinan apabila harga minyak mentah dunia meningkat hingga sekitar 92 dolar AS per barel sepanjang tahun. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap APBN sehingga efisiensi anggaran menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan.
“Pemerintah telah melakukan simulasi terhadap berbagai skenario. Jika tekanan terhadap APBN meningkat akibat harga minyak, efisiensi MBG menjadi opsi,” ujar Purbaya dalam sebuah pertemuan di Jakarta.
Program MBG sendiri memiliki skala anggaran yang besar. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, sebelumnya menyampaikan bahwa pada 2026 lembaganya diproyeksikan mengelola dana sekitar Rp335 triliun. Jumlah tersebut setara dengan pengeluaran sekitar Rp1,2 triliun per hari untuk mendukung pelaksanaan program di seluruh Indonesia.
Anggaran tersebut akan digunakan untuk operasional dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertugas menyediakan makanan bergizi bagi para penerima manfaat, seperti anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Menanggapi kemungkinan efisiensi tersebut, Dadan menegaskan bahwa pihaknya akan mengikuti sepenuhnya keputusan pemerintah pusat. Ia menyatakan BGN akan menjalankan kebijakan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
“BGN akan jalankan apa pun putusan Presiden,” kata Dadan.
Meski demikian, Purbaya memastikan bahwa efisiensi anggaran tidak akan menyentuh komponen utama program, yaitu penyediaan makanan bagi penerima manfaat. Menurutnya, pemerintah tetap memprioritaskan kualitas dan ketersediaan makanan dalam program tersebut.
“Yang untuk makanan tidak kita ganggu, karena itu memang inti programnya,” tegasnya.







