Catatan Dahlan Iskan

Serangan Fajar

Share
Serangan Fajar
Share

Oleh: Dahlan Iskan

Perlunya minoritas diperlakukan secara fair terbukti di dua kejadian: perang di Iran sekarang ini dan saat terjadi reformasi yang gagal di Mesir tahun 2012.

Amerika Serikat kini benar-benar mengincar suku minoritas di Iran: Kurdi –agar bisa menjadi ujung tombak Amerika untuk melakukan serangan darat. Setidaknya untuk melakukan operasi provokasi terhadap rakyat Iran agar bangkit menggulingkan pemerintah.

Suku minoritas itu pernah ”dipakai” Amerika untuk menggempur ISIS. Mereka diberi dana dan senjata. Dananya sudah distop tapi senjatanya masih ada. Mereka double minority: sunni di tengah lautan syiah dan suku Kurdi di tengah samudera suku Parsi.

Reformasi di Mesir gagal karena pemenang pemilu dimokratisnya, Ikhawanul Muslimin, sama sekali tidak mau mengajak yang kalah masuk ke dalam pemerintahan. Semua posisi diambil habis oleh Ikhwanul Muslimin. Ketika mereka ternyata gagal menahan kenaikan harga-harga, mudah terguling.

Kurdi juga merasa mendapat perlakuan kurang adil dari Iran. Tidak puas. Bisa dipakai Amerika –asal ada tawaran yang menarik.

Kini, Amerika Serikat benar-benar berpikir menggunakan suku Kurdi untuk operasi di darat. Itu meninggalkan pertanyaan strategis: menang perang berkat teknologi tinggi ternyata tidak bisa mencapai tujuan akhir: menguasai wilayah lawan. Dengan serangan jarak jauh lawan memang lumpuh. Tapi lantas mau ngapain?

Hampir saja angkatan darat dianggap tidak lagi relevan. Perang bisa sepenuhnya jarak jauh. Prajurit rendah tidak lagi jadi pion yang tewas duluan di medan perang.

Jenderal penting Iran bisa dibunuh di perjalanan di Irak. Nasrullah, pemimpin tertinggi Hisbullah di Lebanon dibunuh lewat udara. Lewat tombol komputer. Pemimpin Hamas bisa dibunuh lewat cara serupa justru saat di negara lain. Nicolas Maduro diculik jarak jauh.

Tentara sekian batalyon seperti tidak terlalu terpakai. Seolah yang lebih diperlukan hanya angkatan udara. Ditambah angkatan laut.

“Memang perang modern ini membuat kita harus berubah,” ujar Djoko Suyanto. Ia seorang marsekal. Bintang empat di angkatan udara. Mantan KSAU. Mantan panglima TNI. “Tidak boleh lagi hanya membangun angkatan udara tapi harus membangun kekuatan udara,” katanya.

Share
Related Articles
Catatan Dahlan Iskan

Bela Khamenei

Oleh: Dahlan Iskan Perlukah Presiden Indonesia mengucapkan duka cita atas meninggalnya pemimpin...

Tujuan IsAm
Catatan Dahlan Iskan

Tujuan IsAm

Oleh: Dahlan Iskan Jadi, apa sebenarnya tujuan IsAm menyerang Iran? Itulah yang...

Krisis Bahlil
Catatan Dahlan Iskan

Krisis Bahlil

Oleh: Dahlan Iskan Perangnya di Iran krisisnya bisa di Indonesia: krisis batu...

Bom Suci
Catatan Dahlan Iskan

Bom Suci

Oleh: Dahlan Iskan Anda sudah tahu: Ayatollah Ali Khamenei tewas Sabtu pagi...