IKNPOS.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara (PPU), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), memperkuat sarana irigasi lahan pertanian dengan melibatkan kelompok tani untuk menjaga kestabilan produksi, khususnya saat musim kemarau.
“Rehabilitasi atau perbaikan untuk memperkuat irigasi melibatkan kelompok tani,” ujar Bupati PPU, Mudyat Noor, Selasa, 3 Maret 2026.
Ia melanjutkan, keterlibatan langsung petani di serambi Ibu Kota Nusantara (IKN) diharapkan membuat hasil pekerjaan lebih tepat guna dan sesuai dengan kebutuhan lahan setempat, sebab para petani memahami secara teknis kebutuhan sebagai pengguna utama jaringan irigasi.
Penguatan sistem pengairan tersebut dilakukan melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) yang dilaksanakan secara swakelola, dengan melibatkan kelompok tani sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan di lapangan untuk merehabilitasi saluran irigasi di wilayah masing-masing.
Berdasarkan data terbaru pemerintah kabupaten, Kabupaten PPU memiliki sekitar 8.000 petani yang tergabung dalam 700 kelompok tani, dengan luas lahan sawah produktif mencapai 14.070 hektare.
Dalam setahun, petani melakukan dua kali masa panen dengan rata-rata produksi sekitar 50.000 ton gabah kering panen (GKP). Pada 2026, juga dilakukan optimalisasi lahan sawah seluas kurang lebih 5.436 hektare yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian.
Kabupaten Penajam Paser Utara merupakan salah satu daerah penopang produksi pangan di Kalimantan Timur, ujar Mudyat, sehingga pembenahan jaringan irigasi menjadi langkah strategis pemerintah daerah.
“Langkah itu menjaga stabilitas panen, terutama saat musim kemarau, sekaligus mendukung kebutuhan pangan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN),” katanya menambahkan.
Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV turut dilibatkan dalam rehabilitasi irigasi tersebut, tambahnya, untuk memastikan serta mengawasi agar proses perbaikan berjalan sesuai aturan.
“Program bukan mengejar penyelesaian fisik, tetapi memperhatikan kualitas dan keterbukaan proses, kalau irigasi tidak berfungsi maksimal, petani dirugikan,” katanya.







