IKNPOS.ID – Kesehatan otak selama ini lebih sering dikaitkan dengan latihan mental, aktivitas fisik, dan kualitas tidur. Namun, perhatian para peneliti kini juga tertuju pada satu aspek yang kerap dianggap sederhana: serat makanan. Sejumlah temuan terbaru menunjukkan bahwa pola makan tinggi serat tidak hanya baik untuk pencernaan, tetapi juga berperan dalam menjaga fungsi kognitif dan menurunkan risiko demensia.
Hubungan antara usus dan otak semakin banyak dibahas dalam dunia medis. Konsep ini dikenal sebagai gut-brain axis, yaitu jalur komunikasi dua arah antara sistem pencernaan dan sistem saraf pusat. Di dalam usus, miliaran mikroorganisme hidup dan membentuk apa yang disebut sebagai mikrobiota usus. Komposisi mikrobiota ini ternyata berpengaruh terhadap kesehatan mental dan kognitif seseorang.
Peran Serat dalam Menjaga Kesehatan Otak
Serat makanan, terutama jenis prebiotik, menjadi bahan bakar bagi bakteri baik di usus. Ketika serat difermentasi oleh mikroorganisme tersebut, dihasilkan asam lemak rantai pendek, salah satunya butirat. Zat ini memiliki peran penting dalam menjaga integritas dinding usus.
Melissa Hogenboom dalam laporan di BBC menjelaskan bahwa keberadaan butirat membantu mempertahankan lapisan usus sehingga mengurangi risiko zat berbahaya masuk ke aliran darah dan memengaruhi otak. Dengan kata lain, semakin banyak serat yang dikonsumsi, semakin besar produksi butirat, dan potensi perlindungan terhadap fungsi kognitif pun meningkat.
Kutipan yang sering disorot dalam laporan tersebut menyatakan, “Semakin banyak serat yang Anda konsumsi, semakin banyak butirat yang diproduksi, dan semakin baik kemampuan kognitif dapat dipertahankan.” Pernyataan ini menggambarkan mekanisme biologis yang kini semakin dipahami oleh para peneliti.
Bukti Observasional: Risiko Demensia Lebih Rendah
Sejumlah penelitian observasional memperkuat dugaan tersebut. Sebuah studi pada tahun 2022 yang melibatkan lebih dari 3.700 orang dewasa menemukan bahwa individu dengan asupan serat tertinggi memiliki risiko demensia yang lebih rendah dibandingkan mereka yang mengonsumsi serat paling sedikit. Sebaliknya, kelompok dengan konsumsi serat terendah menunjukkan peningkatan risiko gangguan kognitif.
Penelitian lain pada orang dewasa berusia di atas 60 tahun juga menunjukkan bahwa pola makan tinggi serat dikaitkan dengan fungsi kognitif yang lebih baik. Hasil-hasil ini memang bersifat korelasional, artinya menunjukkan hubungan, bukan sebab akibat secara langsung. Namun, konsistensi temuan tersebut memberi sinyal kuat tentang pentingnya serat dalam diet harian.







