“Kalau narasinya terus menerus dibangun seolah Indonesia pasti mengalami kekeringan besar, petani bisa ragu untuk tanam. Padahal faktanya di sejumlah daerah hujan masih terjadi dan sebagian petani masih bertanam dengan baik. Ini penting karena sektor pertanian sangat bergantung pada kepastian informasi iklim,” jelasnya.
Debi juga mengingatkan agar komunikasi iklim kepada publik tidak dibangun dengan pendekatan yang terlalu menakutkan karena dapat berdampak langsung terhadap keputusan petani di lapangan.
Sebelumnya, Peneliti Pusat Riset Iklim dan Cuaca Ekstrem BRIN, Erma Yulihastin menjelaskan bahwa beberapa model global memprediksi Godzilla El Nino mulai terjadi sejak April 2026 dan diperkuat fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kondisi tersebut diperkirakan menyebabkan Indonesia mengalami penurunan curah hujan signifikan selama musim kemarau April hingga Oktober 2026.
Erma menyebut Godzilla El Nino dan IOD positif berpotensi mengakibatkan kekeringan di selatan Indonesia yang dapat mengancam lumbung padi nasional khususnya di pantai utara Jawa.
“Janganlah BRIN menakut-nakuti petani. Masa tanam bisa terganggu gara-gara narasi yang berlebihan. Padahal pada bulan-bulan yang diprediksi itu memang secara rutin sudah masuk musim kemarau. BMKG sendiri juga menyebut kondisi kemarau tahun ini masih kategori moderat,” tutup Debi.