Sampai melewati kolong jembatan satwa kedua saya tidak melihat ada orang utan yang menyeberang jembatan. Mungkin karena saya lewat di situ di saat jam makan siang.
Setelah jembatan satwa jalan tol sampai ke jembatan panjang. Kembar. Indah. Terlihat dari jauh. Saya ingin memotret jembatan itu. Tunggu. Biar posisi mobil lebih dekat jembatan.
Ups….tidak bisa memotret. Terhalang bangunan loket tol. Sudah pasti: loket tol itu seharusnya tidak boleh dibangun di situ. Kasihan indahnya arsitektur jembatan. Itulah jembatan Sungai Balang.
Sebetulnya itu bukan sungai. Itu teluk yang amat dalam: Teluk Balikpapan. Memang ada sungai pendek di ‘tenggorokan’ teluk itu: sungai Balang. Tapi saya pilih menyebut air di bawah jembatan itu tenggorokannya Teluk Balikpapan.
Tidak jauh dari jembatan itu kami harus keluar tol. Di depan sana jalan tolnya belum dibangun. Kami pun kembali ke jalan raya yang lama. IKN tidak terlalu jauh dari situ: setengah jam lagi kami sampai.
“Di mana pohon yang pernah minum air seni saya dulu?”
“Kawasan itu sudah jadi gedung kantor pusat otorita IKN,” ujar Rizal yang kala itu juga menemani saya ke IKN.
Dari jauh memang terlihat bangunan modern di puncak gundukan bukit. Di situlah Ketua Otorita IKN Basuki Hadimuljono, berkantor.
“Kita lihat istana dulu, makan siang dulu, atau ke masjid dulu?” tanya saya.
“Ke masjid,” jawab Rizal.
Maka di persimpangan sebelum kantor pusat itu kami belok kanan. Jalannya bagus. Dua jalur dua lajur. Mulus. Kanan kiri jalan masih gersang.
Tak lama kemudian terlihatlah Masjid Negara. Menaranya satu: lambang keesaan. Juga lambang penghematan.
Kami salat duhur. Di lantai satu. Masjidnya sendiri di lantai tiga. Masjid ini seperti jalan tol: dibuka saat Idulfitri, ditutup lagi setelahnya.
“Waktu Idulfitri saya salat di masjid ini,” ujar Rizal.
“Berangkat dari Balikpapan jam berapa?”
“Jam empat pagi,” jawabnya.
Resminya Masjid Negara itu berkapasitas 60.000 orang. Sedikit di bawah Istiqlal Jakarta. Tapi saya tidak percaya itu. Rasanya maksimal hanya bisa untuk salat 6.000 orang. Entah kelak –kalau, misalnya, diperluas.