Di sisi lain, pihak kepolisian di wilayah Kutai Kartanegara dan Samarinda mulai memperketat pengawasan di jalur-jalur utama penghubung antar-kota guna menjaga kondusivitas.
Meskipun tensi politik meningkat, aliansi tetap berkomitmen menjaga aksi tetap berada di koridor demokrasi yang tertib.
Pergerakan massa besar-besaran ini diharapkan menjadi pengingat keras bagi pemerintah provinsi bahwa setiap kebijakan akan selalu diawasi secara ketat oleh kaum intelektual muda Kaltim di sepanjang tahun 2026 ini.
“Kami tidak bisa hanya diam menonton dari pinggir jalan saat kebijakan daerah mulai melenceng dari kepentingan rakyat. Ratusan kader Cipayung Kukar sudah satu komando: kami akan berangkat ke Samarinda untuk menyuarakan penolakan tegas. Ini adalah aksi bela rakyat.
Kami menuntut Gubernur Kaltim untuk segera mengevaluasi kebijakan yang merugikan publik. Kami pastikan kehadiran kami akan membawa energi perlawanan yang damai namun tetap lantang di garis depan,” ujar juru bicara Aliansi Cipayung Kukar.
Dari kampus, massa akan bergerak bersama menuju Samarinda.
Dalam skenario aksi, mahasiswa akan mengawal para pimpinan organisasi, termasuk presiden mahasiswa dan ketua umum Cipayung, untuk menyampaikan orasi.
Selain itu, seluruh peserta diimbau untuk tetap menjaga barisan dan tidak terpancing provokasi selama aksi berlangsung.
“Kami sudah mengingatkan seluruh peserta agar tetap solid. Jangan sampai terpencar dan tetap fokus pada tujuan aksi,” ujar Ibnu, Minggu (19/4/2026).
Ia menegaskan, pihaknya telah menyiapkan langkah lanjutan, apabila terjadi tindakan represif di lapangan.
“Jika ada massa yang diamankan dan tidak dilepaskan, kami akan langsung melakukan aksi lanjutan di Mapolres Kukar,” tuturnya.
Sejumlah organisasi dipastikan ikut serta dalam aksi demonstrasi, di antaranya HMI, PMII, GMNI, serta berbagai Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari fakultas seperti FAI, FEBIS, FATEK, FISIPOL, FAPERTA, FKIP, hingga FAHUM.