“Kepercayaan kepada generasi muda adalah langkah strategis. Pertanian harus menjadi sektor modern yang berbasis inovasi. Dengan teknologi, produktivitas meningkat dan daya saing ikut terangkat,” ujarnya.
Namun demikian, KAMMI menekankan bahwa capaian swasembada harus berdampak langsung pada masyarakat. Pada tahun pertama, peningkatan produksi belum sepenuhnya diikuti oleh penurunan harga beras.
“Tahun kedua harus menjadi fase perbaikan. Rantai pasok harus dibenahi agar distribusi lebih efisien dan harga beras bisa turun di tingkat konsumen. Swasembada harus terasa di pasar, bukan hanya di angka produksi,” tegasnya.
KAMMI memandang, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, arah menuju swasembada pangan semakin jelas, dengan catatan perbaikan sistem terus dilakukan secara konsisten.
“Kami optimis, jika pembenahan ini berlanjut dan fokus pada kepentingan rakyat, maka swasembada pangan di tahun kedua bukan hanya tercapai, tetapi juga berdampak pada stabilitas harga dan kesejahteraan masyarakat,” lanjutnya.
Di akhir pernyataannya, Furqon menegaskan bahwa KAMMI akan tetap berada di posisi kritis dan konstruktif.
“PP KAMMI akan terus mengawal kebijakan pemerintah. Kami berpihak kepada petani dan masyarakat. Kedaulatan pangan harus diwujudkan dengan sistem yang adil, distribusi yang efisien, dan harga yang terjangkau,” pungkasnya.