Maka di Amerika pasti berkembang diskusi dengan tema “penyebab-penyebab runtuhnya penguasa dunia di masa lalu”. Jangan sampai itu terjadi lagi. Jangan sampai Amerika hanya menguasai dunia hanya 100 tahun.
Mereka tentu belajar dari situ agar Amerika bisa abadi menguasai dunia. Apa saja yang harus dilakukan. Apa saja yang tidak boleh dilakukan.
Itu sama dengan orang-orang kaya masa kini. Mereka tahu dari sejarah: kekayaan itu akan habis di generasi ketiga. Kekuasaan keuangan runtuh atau diturunkan di generasi ketiga.
Seminar-seminar tentang itu pun banyak dilakukan. Laris. Penyebab-penyebab keruntuhan dipelajari. Dikaji. Mereka terus mencari cara agar kekayaan itu bisa abadi. Sudah ada yang mulai menemukan jalan keluar: menciptakan family constitution. Dr Hadi Cahyadi salah satu ahlinya di Indonesia.
Semua skenario penyelamatan kekayaan itu fokus pada internal di orang kaya: bagaimana bisa kokoh. Tidak rapuh. Tidak satu pun studi menyebut perlunya memiskinkan orang lain. Memiskinkan tetangga. Teman. Lingkungan. Bukan itu jalan untuk terus menjadi terkaya.
Di level negara mungkin saja caranya sama: jaga negara agar tetap kokoh, tetap lebih produktif, tetap lebih pintar. Tidak harus dengan cara mengadu domba negara lain. Tidak perlu membuat negara lain yang terlihat akan maju dihambat kemajuannya.
Betapa enteng Presiden Trump mengucapkan itu tanggal 6 April: “whole civilization will die tonight, never to be brought back again.”
Iran mungkin contoh paling nyata. Negara itu memenuhi syarat untuk bisa menjadi negara makmur asal penduduknya tidak dimusnahkan—apalagi hanya dalam satu malam.(Dahlan Iskan)