Oleh: Dahlan Iskan
Saya minta penanya yang angkat tangan itu naik ke panggung. Saya minta dia berdiri di sebelah saya.
“Anda pilih saja salah satu rekan kerja Anda. Jadikan dia/ia pesaing. Anda sebut namanyi/nya dalam hati. Jangan Anda ucapkan nama itu kepada siapa pun”.
Masih ada kalimat lanjutannya: “Katakan dalam hati: ‘saya harus lebih hebat dari dia/ia’. Saya akan tunjukkan bahwa saya bisa kerja lebih baik dari dia/ia”.
Wanita muda itu terlihat tidak puas mendengar pendapat saya itu. Dia cantik meski tanpa make-up sama sekali. Tinggi. Langsing. Sawo matang. Kalau saja dia ikut perawatan wajah, pastilah paling tidak 5i.
Dia berani membantah saya. “Tidak mungkin. Semua rekan kerja saya lulusan top ten university di Indonesia,” katanyi.

Dahlan Iskan bersama calon wisudawan Universitas Terbuka Surabaya.–
Minggu hari ini dia diwisuda menjadi sarjana S-1 Universitas Terbuka –bersama 500 lebih wisudawan dari UT Surabaya. Mereka menghadiri semacam pembekalan untuk hidup setelah lulus S-1.
Dia juga mengatakan semua rekan kerjanyi laki-laki. Hanya dia yang Kartini. Perusahaannyi bergerak di bidang processing tembakau.
Berarti saat mulai bekerja di situ dia pakai ijazahnya SMA. Dari situ saja saya bisa menduga bahwa dia istimewa: lulusan SMA bisa satu rekan kerja dengan para alumnus top ten university.
Bahwa dia memutuskan sambil bekerja masih mau kuliah itu pun juga menunjukkan kemauan belajar yang baik.
Tapi kenapa dia merasa begitu minder?
Saya pun ingat acara Disway Malang dan Perwosi Kota Batu Minggu pagi lalu. Acaranya di kota wisata Batu. Resminya: menyongsong Hari Kartini. Tiga pembicara Kartini ditampilkan: seorang wanita karir (Dr Ira Puspadewi), wanita pengusaha roti yang sukses Mulyani Hadiwijaya (Dea Bakery), dan wanita akademisi (rektor UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang).
Saya dijepit para wanita itu sebagai moderator.
