Oleh: Dahlan Iskan
Tidak mudah menjadikan Halo BCA juara dunia Contact Center perbankan dunia (baca Disway kemarin). Harus ada Wani sebagai pembangun pertama. Dia wanita hebat. Nama lengkapnyi: Wani Sabu.
Kini Wani menjabat vice president Bank BCA. Tidak hanya itu. Dia juga menjadi vice presiden grup Djarum, Kudus. Bank BCA memang salah satu bisnis di keluarga Djarum.
Awalnya Wani adalah auditor di BCA. Sebenarnya dia orang hukum. Alumnus Universitas Parahyangan, Bandung. Untuk itu dia harus ikut pendidikan khusus auditor di BCA: sampai 18 bulan. Sangat berat. Ia bukan orang ekonomi. Tapi, Wani berhasil jadi lulusan terbaik pendidikan auditor tersebut.
Karir Wani seterusnya pun di auditor. Dia matang di lingkungan auditor. Mendalami juga ilmu fraud di dunia perbankan. Untuk itu dia ambil S-2 di Universitas Tarumanegara. Bahkan kini dalam proses menyelesaikan S-3 kriminologi di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Sebentar lagi jadi doktor ilmu kepolisian.
Keahlian Wani di bidang fraud perbankan diakui di mana-mana. Sampai Wani dipilih untuk menjadi ketua Perbanas bidang fraud: ketua Komite Siber Fraud Perbanas.
Wani adalah auditor yang tidak harus selalu berjiwa tegang. “Saya tipe auditor happy,” ujarnyi saat berbincang panjang dengan saya di suatu acara di Jakarta. “Saya orang yang mudah move on,” tambah Wani.
Tibalah saatnya terjadi regenerasi kepemimpinan di BCA. Generasi ketiga pemilik Djarum mulai memasuki level pimpinan tertinggi. Cucu pendiri Djarum menjadi wakil dirut BCA: Armand Hartono.
Wani dipanggil Armand. Dia dipindah dari tim auditor ke customer service. Tepatnya: ke Halo BCA.
Perasaan Wani campur aduk waktu itu: apakah karirnyi sedang dijatuhkan? Disingkirkan? Dihukum? Pasti pimpinan menganggap Wani berbuat kesalahan: diturunkan dari kasta tertinggi (auditor) ke kasta terendah.
Wani pun menemui bos barunyi. Di situlah Wani memperoleh kejelasan: Armand ingin BCA dibenahi habis-habisan. Terutama di bidang hubungan bank dengan nasabahnya. Kuncinya: di Halo BCA.