Melalui program ini, OJK akan bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan ekosistem dari hulu ke hilir. Diperkirakan, pada tahun 2026 nanti, Kalimantan Tengah tidak hanya dikenal sebagai penghasil sumber daya alam mentah, tetapi juga sebagai pusat utama buah naga berkualitas tinggi yang mampu meningkatkan taraf kehidupan masyarakat lokal secara signifikan.
Di sisi hilir, Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Kalimantan Tengah menyatakan kesiapan menyerap produksi buah naga.
Industri perhotelan juga menyampaikan kesiapan dalam penggunaan buah lokal sebagai implementasi amanat UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.
Sinergi kebijakan dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan ini diharap memastikan pengembangan berjalan terarah, berkelanjutan serta memberi dampak ekonomi lebih luas bagi masyarakat.
“Maka perluasan akses business-to-business, serta didukung pembiayaan berkelanjutan dan sinergi lintas sektor membuat PED berjalan optimal, inklusif hingga mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” jelas Primandanu.
Primandanu menjabarkan sebagai dukungan nyata dalam menyukseskan PED komoditas buah naga ini, pihaknya juga telah menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) melibatkan seluruh pihak terkait.
Dalam FGD tersebut disepakati buah naga ditetapkan menjadi fokus PED Kalimantan Tengah 2026, dengan komitmen seluruh pihak membentuk ekosistem terintegrasi, berkelanjutan dan mampu meningkatkan nilai tambah maupun daya saing daerah.