Home News Cap Go Meh di Kalbar, Wajah Akulturasi Budaya dan Harmoni Antar-Etnis
News

Cap Go Meh di Kalbar, Wajah Akulturasi Budaya dan Harmoni Antar-Etnis

Perayaan Cap Go Meh di Kalimantan Barat bukan sekadar agenda tahunan komunitas Tionghoa, melainkan telah menjelma menjadi festival budaya yang merepresentasikan akulturasi dan kebersamaan lintas etnis.

Share
Kemeriahan perayaan Cap Go Meh di Bogor, Jumat 14 Februari 2025.-jabarprov-jabarprov
Share

IKNPOS.ID – Perayaan Cap Go Meh di Kalimantan Barat bukan sekadar agenda tahunan komunitas Tionghoa, melainkan telah menjelma menjadi festival budaya yang merepresentasikan akulturasi dan kebersamaan lintas etnis. Tradisi yang jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek ini tumbuh dengan warna lokal yang kental, khususnya di Pontianak dan Singkawang.

Secara tradisional, Cap Go Meh dimaknai sebagai penutup rangkaian Imlek atau “malam ke-15”. Momen ini identik dengan doa, harapan, serta kebersamaan keluarga untuk menyongsong tahun yang baru. Dalam praktiknya, masyarakat Tionghoa merayakannya dengan pertunjukan barongsai, atraksi naga, serta berbagai ritual penuh simbol keberuntungan.

Namun di Indonesia, khususnya Kalimantan Barat, perayaan ini berkembang melalui proses adaptasi budaya. Salah satu contoh paling nyata terlihat pada kuliner lontong Cap Go Meh. Hidangan tersebut memadukan tradisi Tionghoa dengan cita rasa Nusantara seperti lontong dan kuah santan, menggantikan sajian asli seperti yuanxiao. Perpaduan ini menunjukkan bagaimana tradisi tetap terjaga maknanya meski bertransformasi mengikuti konteks lokal.

Di Pontianak, ruas Jalan Diponegoro dan Gajah Mada kerap menjadi pusat perayaan. Ribuan warga memadati kawasan tersebut untuk menyaksikan parade budaya, pertunjukan seni, hingga bazar kuliner. Pemerintah daerah bersama komunitas setempat mengemas Cap Go Meh sebagai ajang pelestarian budaya sekaligus promosi pariwisata.

Sementara itu, Singkawang dikenal luas sebagai salah satu kota dengan perayaan Cap Go Meh terbesar di Indonesia. Tradisi tatung menjadi daya tarik utama. Para tatung, yang menjalani ritual spiritual dengan unsur kepercayaan tertentu, tampil dalam balutan busana yang kadang memadukan ornamen Tionghoa dan Dayak. Interaksi simbolik ini mencerminkan perjumpaan budaya yang hidup dan dinamis.

Cap Go Meh di Kalbar juga merefleksikan kuatnya harmoni sosial. Perayaan ini tak lagi dipandang sebagai milik satu kelompok etnis, melainkan ruang bersama untuk merayakan keberagaman. Partisipasi lintas komunitas memperkuat pesan toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan.

Share
Related Articles
News

KAT Kawal Eksekusi Eks Hotel Anggrek Ambon, Soroti Riwayat Lahan hingga Perkara Pidana

IKNPOS.ID - Rencana eksekusi lahan eks Hotel Anggrek di kawasan Batu Gajah,...

News

Tolak Perkum untuk Jegal Gus Yusuf, Ini 7 Poin Sikap Aspirasi Muda Nahdliyin

JAKARTA- Aspirasi Muda Nahdliyin menyatakan sikap menolak penggunaan Peraturan Perkumpulan (Perkum) sebagai...

air limbah
News

Miris! Akses Air Limbah dan Sanitasi Indonesia Terendah di ASEAN

IKNPOS.ID - Kualitas akses layanan air minum dan pengelolaan air limbah yang...

buruh tambang kaltim
News

Imbas Ketidakpastian Perpanjangan IUP: 15 Ribu Buruh Tambang di Kaltim Terancam Jadi Pengangguran

IKNPOS.ID – Ketidakpastian perpanjangan Izin Usaha Pertambangan (IUP) mulai berdampak luas terhadap...