Home News Longsor TPA di Filipina Tewaskan 11 Orang, Puluhan Masih Hilang
News

Longsor TPA di Filipina Tewaskan 11 Orang, Puluhan Masih Hilang

Share
Ilustrasi Tanah Longsor, Image: DALL·E 3
Share

Dampak Kemanusiaan dan Psikologis

Tragedi ini meninggalkan luka mendalam bagi komunitas sekitar. Keluarga korban menunggu kabar dengan harapan yang semakin menipis. Salah satu warga yang tinggal di dekat lokasi menceritakan bagaimana suara runtuhan terdengar seperti ledakan, memicu kepanikan massal. Kisah-kisah semacam ini menegaskan bahwa bencana lingkungan tidak hanya berdampak fisik, tetapi juga psikologis, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang sering kali bergantung pada sektor pengelolaan sampah untuk bertahan hidup.

Dalam perspektif kesehatan masyarakat, pekerja landfill termasuk kelompok rentan karena paparan bahaya fisik, kimia, dan biologis. Organisasi Perburuhan Internasional telah lama menekankan perlunya perlindungan kerja yang lebih ketat bagi sektor informal dan berisiko tinggi seperti pengelolaan limbah.

Tanggapan Pemerintah dan Seruan Reformasi

Pemerintah Filipina melalui Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam memerintahkan penghentian sementara operasional perusahaan pengelola landfill. Perusahaan tersebut diwajibkan menyusun rencana kepatuhan dalam jangka waktu tertentu, sementara investigasi resmi berlangsung untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab.

Sejumlah legislator menyerukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah nasional. Salah satu senator menyatakan bahwa tragedi serupa pernah terjadi sebelumnya, namun risiko yang sama masih terus berulang. Pernyataan ini menegaskan perlunya reformasi nyata, bukan sekadar respons sementara setelah bencana terjadi.

Relevansi dengan Ilmu Pengetahuan Modern

Dalam kajian ilmu lingkungan dan rekayasa sipil, pengelolaan landfill modern menekankan pendekatan berbasis risiko dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Data ilmiah menunjukkan bahwa intensitas hujan ekstrem meningkat di banyak wilayah Asia Tenggara, termasuk Filipina. Tanpa penyesuaian desain infrastruktur, landfill lama menjadi semakin rentan terhadap kegagalan struktural.

Teknologi pemantauan lereng, sensor kelembapan, serta sistem peringatan dini telah tersedia dan terbukti mampu mengurangi risiko. Namun, penerapan teknologi ini memerlukan komitmen kebijakan dan investasi jangka panjang. Tragedi di Cebu menjadi contoh nyata bagaimana kesenjangan antara pengetahuan ilmiah dan praktik lapangan dapat berujung pada korban jiwa.

Share
Related Articles
News

KAT Kawal Eksekusi Eks Hotel Anggrek Ambon, Soroti Riwayat Lahan hingga Perkara Pidana

IKNPOS.ID - Rencana eksekusi lahan eks Hotel Anggrek di kawasan Batu Gajah,...

News

Tolak Perkum untuk Jegal Gus Yusuf, Ini 7 Poin Sikap Aspirasi Muda Nahdliyin

JAKARTA- Aspirasi Muda Nahdliyin menyatakan sikap menolak penggunaan Peraturan Perkumpulan (Perkum) sebagai...

air limbah
News

Miris! Akses Air Limbah dan Sanitasi Indonesia Terendah di ASEAN

IKNPOS.ID - Kualitas akses layanan air minum dan pengelolaan air limbah yang...

buruh tambang kaltim
News

Imbas Ketidakpastian Perpanjangan IUP: 15 Ribu Buruh Tambang di Kaltim Terancam Jadi Pengangguran

IKNPOS.ID – Ketidakpastian perpanjangan Izin Usaha Pertambangan (IUP) mulai berdampak luas terhadap...