Catatan Dahlan Iskan

Gagal Sukses  

Share
Zohran Mamdani ke Bronx, menandatangani kebijakan di jalanan Sedgwick Avenue didampingi Tascha Van Auken.-crainsnewyork-
Zohran Mamdani ke Bronx, menandatangani kebijakan di jalanan Sedgwick Avenue didampingi Tascha Van Auken.-crainsnewyork-
Share

Tentu saya mengikuti dinamika yang terjadi di New York. Banyak analis menilai kemungkinan berhasilnya hanya 35 persen. Tapi kemungkinan gagalnya juga sekitar itu. Sisanya pilih kemungkinan ketiga: jalan kompromi.

Kegagalan itu berasal dari satu kemungkinan: terjadi krisis anggaran. Terlalu banyak pengeluaran untuk infrastruktur sosial tanpa diimbangi naiknya pendapatan –terutama dari pajak.

Program utama menggratiskan angkutan bus akan menggerogoti anggaran. Apalagi bila kereta bawah tanah juga gratis bagi orang miskin.

Belum lagi program lainnya: membuka toko-toko kebutuhan pokok dengan harga murah.

Di lain pihak sewa rumah/rusun, diturunkan. Setidaknya tidak bisa dinaikkan. Pajak dari sektor ini akan merosot drastis.

Belum lagi kalau investor merasa ”New York Baru” kurang menarik untuk bisnis. Lalu mereka #kaburdulu.

Yang memperkirakan Zohran berhasil didasarkan pemikiran bahwa New York sudah telanjur kaya. Telanjur jadi pusat keuangan dunia. Infrastruktur dasar sudah terbangun lama. Memang, saatnyalah sekarang masuk tahap membangun infrastruktur sosial. Itu bisa membuat lapisan bawah lebih produktif –satu sumber kemajuan bersama.

Mungkin juga akan terjadi kompromi. Sebagian janji dipenuhi. Sebagian lainnya ”ditunda”. Para pengusaha besar bisa saja tidak jadi kabur tapi juga mau menurunkan derajat kerakusan mereka.

Sudah lima hari ini Zohran terlihat terus memerangi perusahaan real estate besar. Mereka memang punya banyak taktik untuk tidak menaikkan sewa. Tapi memungut biaya-biaya lainnya. Misalnya ada uang perbaikan, uang lift, uang pemeliharaan, uang kebersihan, uang pencegah tikus dan apa saja.

Taktik pengusaha real estate di sana sama saja dengan di mana saja: penghuni lama dibuat tidak kerasan. Lalu pindah. Agar penghuni baru masuk dengan sewa lebih tinggi.

New York memang menjadi awal lahirnya prinsip baru dalam bisnis real estate: “rumah adalah aset. Aset adalah instrumen keuangan”.

Beda dengan prinsip penyewa: rumah adalah tempat tinggal. Di desa saya pun begitu: rumah bukan aset, tapi tempat membangun keluarga.

Share
Related Articles
Catatan Dahlan Iskan

Cari Muka

Oleh: Dahlan Iskan "Papa saya masih aktif mengajar," ujar Ina Silas. Saya...

Jalan Baru
Catatan Dahlan Iskan

Jalan Baru

Oleh: Dahlan Iskan Di Amerika sendiri banyak yang berdoa agar perundingan Amerika-Iran...

Catatan Dahlan Iskan

Hotel Syiah

Oleh: Dahlan Iskan Jangan kaget: hotel mewah bintang lima yang dipakai tempat...

WFH Sarengat
Catatan Dahlan Iskan

WFH Sarengat

Oleh: Dahlan Iskan Rasanya Anda sudah dapat kiriman humor tentang atasan yang...