Selain melalui Operasi Modifikasi Cuaca, BPBD DKI Jakarta dan lintas sektor terus melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menghadapi potensi curah hujan tinggi saat musim penghujan.
Upaya mitigasi tidak hanya bertumpu pada teknologi modifikasi cuaca, tetapi juga dilakukan melalui peningkatan kapasitas masyarakat, optimalisasi infrastruktur, serta penguatan sistem peringatan dini.
Langkah pertama yakni pembersihan dan bormalisasi saluran air bekerj sama dengan Dinas Sumber Daya Air, Dinas Lingkungan Hidup, dan pihak terkait.
“Pemprov DKI Jakarta rutin melakukan pembersihan saluran, waduk, dan memastikan pompa air berfungsi optimal,” ujarnya.
Kemudian memperkuat sistem peringatan dini dengan mengembangkan sistem informasi berbasis data cuaca, tinggi muka air, dan potensi genangan, yang disebarluaskan secara real-time kepada masyarakat melalui berbagai kanal komunikasi.
Selanjutnya melakukan simulasi dan pelatihan kesiapsiagaan kebencanaan di tingkat RW dan kelurahan.
“Masyarakat dibekali pengetahuan untuk melakukan langkah penyelamatan diri dan evakuasi bila diperlukan,” sambung Budi.
BPBD juga melakukan pemetaan wilayah rawan genangan dan penyusunan rencana kontinjensi bersama lintas sektor.
Hal ini agar penanganan darurat dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi.
BPBD juga aktif memberikan edukasi dan sosialisasi publik melalui berbagai kanal, termasuk media sosial untuk mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana.
Dengan berbagai langkah mitigasi ini, diharapkan seluruh pihak dapat berperan aktif dalam menjaga lingkungan dan meminimalisir dampak bencana hidrometeorologi.
“Sinergi antara pemerintah, lembaga teknis, dan masyarakat menjadi kunci utama untuk mewujudkan Jakarta yang tangguh menghadapi bencana,” pungkas Budi.
Cahyono







