Selanjutnya pada 2023 tercatat bahwa sebanyak 87,3 persen dari penerbitan Green Bonds tersebut telah dialokasikan untuk proyek-proyek hijau sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan dan komite dari environmental (lingkungan), social (sosial), and governance (tata kelola) atau ESG BNI.
Artinya, sekitar Rp4,4 triliun telah digunakan di mana 53 persen di antaranya untuk proyek transportasi yang berkelanjutan.
Sisanya sebesar 18 persen untuk keberlanjutan sumber daya alam dan tanah, kemudian 13 persen untuk pengolahan limbah menjadi energi dan proyek lainnya adalah energi baru terbarukan dan juga untuk green building.
Nafan mengatakan, penerbitan Green Bonds tersebut berdampak langsung kepada lingkungan.
Untuk proyek yang dimulai dari energi baru terbarukan, transportasi berkelanjutan, green building, hingga pengolahan limbah, tercatat mengurangi emisi efek rumah kaca hingga 1,4 juta tCO2eq per tahun.
“Masih dalam proyek yang sama, setidaknya jumlah energi yang diproduksi mencapai hampir 50 ribu MWh,” jelasnya.
Adapun untuk proyek transportasi berkelanjutan, setidaknya penghematan energi mencapai 790 ribuan Gj per tahun.
Kemudian, jumlah limbah yang berhasil didaur ulang tercatat mencapai 1,6 juta ton per tahun.
Tak hanya itu, lebih dari 28 ribu pohon berhasil ditanam kembali dan lebih dari 300 ribu hektare (Ha) lahan berhasil dilindungi.
Green bonds yang diterbitkan tersebut telah berdampak positif pada penurunan produksi emisi BNI.
Lebih lanjut, penguatan green portofolio seperti ini akan terus didorong sehingga mempercepat terciptanya ekosistem ekonomi hijau di Indonesia.
Bahkan, pemerintah menyiapkan berbagai insentif bagi perusahaan sehingga menambah gairah pengurangan emisi di Indonesia.