Home Borneo Tradisi Makan Sirih Orang Dayak di Mahakam Ulu: Warisan Budaya yang Nyaris Terlupakan
Borneo

Tradisi Makan Sirih Orang Dayak di Mahakam Ulu: Warisan Budaya yang Nyaris Terlupakan

Share
Tradisi Menyirih/ilustrasi
Share

Proses makan daun sirih cukup sederhana namun penuh makna. Biasanya, sehelai daun sirih dibalutkan dengan sepotong buah pinang dan sedikit kapur.

Campuran ini kemudian dikunyah bersama-sama. Beberapa orang juga menambahkan tembakau untuk menambah rasa.

“Tidak hanya daun sirih yang dimakan, tapi juga beberapa bahan lainnya, seperti buah pinang muda ataupun tua, kapur sirih yang dibuat dari cangkang kerang sungai, daun gambir, serta tembakau atau sugi,” jelasnya.

Untuk tempat penyimpanan komponen bersirih ini, orang Dayak Mahulu biasa menyimpannya di dalam sebuah wadah berbentuk keranjang kecil yang biasa disebut kiran atau kaban. Wadah itu terbuat dari rotan.

“Ketika ada seseorang yang bertamu ke salah satu rumah maka kiran atau barang itu lah yang disuguhkan kepada tamu sebagai pembuka obrolan,” ujarnya.

Cara Makan Daun Sirih

Persiapan Bahan: Daun sirih dipilih dengan hati-hati, dan pinang dipotong-potong. Kapur, yang berfungsi sebagai pengikat, dioleskan dalam jumlah kecil.

Mengunyah: Setelah semua bahan disiapkan, campuran tersebut dimasukkan ke dalam mulut dan dikunyah perlahan. Proses mengunyah ini bisa berlangsung beberapa menit hingga setengah jam.

Manfaat Kesehatan: Selain sebagai tradisi sosial, mengunyah sirih dipercaya membantu membersihkan mulut, menguatkan gigi, dan menyegarkan nafas.

Untuk mempermudah memakan sirih, wadah penyimpan sirih juga kerap dibawa kemana-mana, termasuk saat pergi ke kota ataupun daerah lain.

“Makanya kita orang Dayak dari dulu sampai sekarang itu dituntut harus punya kiran. Meski kita tidak menyirih tapi kita harus punya itu, karena itu yang kita pakai jika ada yang bertamu,” tuturnya.

Selain menyiapkan kiran, para penyirih juga menyiapkan wadah khusus untuk menyimpan kotoran atau air ludah sirih.

Air sirih tidak dibuang sembarangan, melainkan dibuang ke dalam wadah khusus yang telah disediakan.

Wadah penyimpan sirih juga kerap dibawa kemana-mana, termasuk saat pergi ke kota ataupun daerah lain.

“Makanya kita orang Dayak dari dulu sampai sekarang itu dituntut harus punya kiran. Meski kita tidak menyirih tapi kita harus punya itu, karena itu yang kita pakai jika ada yang bertamu,” imbuhnya.

Share
Related Articles
Tol Akses IKN Gratis Mudik 2026
Borneo

Tol IKN Seksi 3A-2 Percepat Akses Balikpapan–Samarinda ke Kawasan Pemerintahan Baru

IKNPOS.ID - Keberadaan Jalan Tol Ibu Kota Nusantara (IKN) Seksi 3A-2 mulai...

Borneo

Mengejutkan! Kaltim Siapkan 1.270 Ton Sampah per Hari Demi Listrik, Ini Rencana Besarnya

IKNPOS.ID - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) tengah menyiapkan pasokan sampah...

Borneo

Sorotan Ekonom soal IKN: Risiko Pemborosan hingga Usulan Kampus dan Alih Fungsi Infrastruktur

IKNPOS.ID - Proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) kembali menjadi topik hangat dalam...

Program bedah rumah Kaltim digeber, kuota naik jadi 3.000 unit. Jadwal dipercepat, Balikpapan jadi fokus utama pemerintah.
Borneo

Bedah Rumah Digeber! Kuota Melejit 3.000 Unit di Kaltim, Jadwal Maju—Balikpapan Jadi Sorotan

IKNPOS.ID - Pemerintah tancap gas mempercepat program bedah rumah di Kalimantan Timur....