IKNPOS.ID – Sejak Desember 2022 hingga Juli 2024, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) telah mengirimkan sebanyak 695.000 ton semen untuk mendukung proyek pembangunan di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.
Proyek ini melibatkan pembangunan hunian tapak ramah lingkungan tipe MBR 36, yang memanfaatkan bata interlock dari semen hijau, sebuah produk terbaru dari Semen Indonesia Group (SIG).
Bata interlock ini dirancang khusus untuk wilayah dengan tingkat seismisitas tinggi dan telah teruji sesuai dengan standar Uji Siklik Modular 2D yang ditetapkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Keunggulan utama dari semen hijau ini terletak pada sifatnya yang rendah karbon dibandingkan dengan semen konvensional, menjadikannya bagian dari komitmen SIG terhadap keberlanjutan dan industri yang lebih ramah lingkungan.
“Seiring meningkatnya kesadaran publik dan dorongan pemerintah dalam penggunaan bahan bangunan yang ramah lingkungan,” ujar Andriano Hosny Panangian, Direktur Keuangan & Manajemen Portofolio SMGR, Senin 2 September 2024.
Permintaan semen dan bahan baku konstruksi di IKN yang tinggi mendorong SMGR untuk bekerja sama dengan berbagai kontraktor konstruksi, termasuk PT Karya Logistrik Nusantara, sebuah perusahaan BUMN yang mengelola logistik.
Kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan pasokan bahan baku konstruksi yang memadai dan tepat waktu guna mendukung percepatan pembangunan IKN.
Selain fokus pada produk semen, SMGR terus memperluas diversifikasi bisnisnya. Perusahaan ini aktif dalam berbagai bidang, termasuk produksi beton siap pakai, mortar, dan komponen pracetak.
SMGR juga terlibat dalam bisnis pertambangan, logistik, kawasan industri, serta pengelolaan limbah ramah lingkungan, yang semakin memperkuat posisi perusahaan sebagai pemain kunci di sektor konstruksi dan infrastruktur.
Namun, meskipun berbagai inisiatif dan ekspansi bisnis telah diluncurkan, kinerja keuangan SMGR pada Semester Pertama 2024 menunjukkan penurunan. Laba bersih tercatat sebesar Rp501,47 miliar, turun 42,1 persen secara year on year (yoy), sementara pendapatan juga mengalami penurunan sebesar 3,64 persen menjadi Rp16,41 triliun.