IKNPOS.ID – Pemerintah Kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan mendorong peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah dimulai dari rumah tangga untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarbaru Shanty Eka Septiani mengatakan telah berkoordinasi dengan camat dan lurah menyusun strategi pengelolaan sampah berbasis kesepakatan masyarakat.
“Kami sudah berkoordinasi dengan camat dan lurah menyusun strategi pemilahan sampah dimulai dari rumah tangga untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat,” ujarnya di Kota Banjarbaru, Ahad.
Menurut Shanty, perubahan perilaku dalam memilah sampah yang dimulai dari rumah tangga merupakan kunci pengelolaan sampah dengan cara memisahkan sampah organik dan sampah anorganik.
Perubahan perilaku dalam memilah sampah yang dimulai dari rumah tangga merupakan kunci pengelolaan sampah dengan cara memisahkan sampah organik dan sampah anorganik.
Shanty menjelaskan, pengelolaan sampah yang dimulai dari sumbernya diimbangi dengan penetapan lokasi percontohan pemilahan sampah pada tiap kelurahan dan rumah mengolah sampah organik tingkat RT/RW.
Di sisi lain, lanjut pejabat perempuan itu, pihaknya bersama masyarakat juga melakukan identifikasi fasilitas pengolahan sampah organik yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah.
Shanty berharap pasca studi tiru di Kelurahan Rorotan, Cilincing Jakarta pada pekan lalu, seluruh pemangku kepentingan mampu memperkuat edukasi kepada masyarakat sehingga terbiasa memilah sampah dari rumah.
Disebutkan, gerakan sudah dimulai di sejumlah wilayah seperti di RT 33 RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor, warga konsisten menjalankan program Mari Kita Sedekah Sampah (Markisa) sejak delapan bulan terakhir.
Gerakan serupa juga berkembang di RW 04 Kelurahan Mentaos yang jadi kawasan percontohan mencakup pembangunan komposter komunal, penyediaan titik pengumpulan sampah organik, serta pelibatan relawan.
Ditambahkan, Pemkot Banjarbaru juga mendorong pengurus RT menyusun roadmap pengelolaan sampah sesuai karakteristik wilayah yang mulai dari penyediaan sarana, kemudian pola pengumpulan, hingga pembentukan relawan dan penguatan kelembagaan seperti bank sampah.