IKNPOST.ID – Jika Pulau Jawa punya Nila dan Sumatra punya Patin, maka tanah Borneo memiliki primadona tak tertandingi, Ikan Papuyu. Meski fisiknya kecil dan bersisik keras, ikan yang juga dikenal sebagai ikan Betok (Anabas testudineus) ini memiliki reputasi besar, baik di ekosistem rawa maupun di meja makan. Mari kita ulas sisi menariknya.
Sisi paling ajaib dari Papuyu yakni pada ketangguhannya. Secara biologis, ia adalah ikan amfibi fakultatif. Selain memiliki insang, Papuyu dibekali organ tambahan bernama Labirin (Labyrinth).
Organ ini memungkinkan Papuyu mengambil oksigen langsung dari udara. Tak heran jika saat musim kemarau, warga sering melihat ikan ini “berjalan” atau merayap di daratan menggunakan sirip dadanya yang kuat untuk mencari sumber air baru. Ketangguhan inilah yang membuatnya tetap segar bugar meski dijual di pasar dengan kondisi nyaris tanpa air.
Kondisi geografis Kalimantan yang didominasi lahan basah dan rawa gambut adalah surga bagi Papuyu. Melimpahnya habitat alami menjadikannya bagian tak terpisahkan dari budaya memancing masyarakat Banjar dan Dayak. Bagi warga lokal, Papuyu bukan sekadar ikan, melainkan identitas kuliner yang melambangkan kekayaan alam Borneo.
Daging Papuyu juga dikenal sangat gurih, manis, dan berlemak. Namun, penikmatnya harus waspada karena durinya cukup kuat. Beberapa olahan legendarisnya antara lain Papuyu Bakar menjadi menu wajib yang disantap bersama sambal acan (terasi) dan perasan limau kuit, Gangan Asam Papuyu yakni Sayur asam khas Banjar yang lemak ikannya lumer di lidah, dan Wadi Papuyu dikenal sebagai produk fermentasi tradisional menggunakan garam dan sangrai beras (sammu), memberikan cita rasa asam-asin yang unik.
Di pasaran, harga Papuyu segar bisa mencapai Rp60.000 hingga Rp120.000 per kg, bahkan untuk ukuran besar (Grade A/Babon) harganya bisa menyentuh Rp150.000 per kg. Harga ini jauh melampaui ikan nila atau mas.
Mahalnya harga Papuyu dipicu oleh beberapa faktor antara lain karena pertumbuhannya lambat dan butuh waktu 6-8 bulan untuk mencapai ukuran konsumsi, selain itu juga karena permintaan tinggi menjadi hidangan “gengsi” dalam acara-acara adat atau jamuan spesial.