IKNPOS.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi lewat pernyataan tajamnya mengenai Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS). Ucapan tersebut terlontar dalam forum investasi yang didukung Saudi di Florida, di tengah situasi panas perselisihan antara Washington dan Teheran.
Dalam pidato tersebut, Trump menggambarkan dinamika hubungannya dengan Riyadh menggunakan diksi yang dinilai tidak lazim bagi seorang kepala negara. Ia menyebut bahwa saat ini MBS harus mengubah sikap menjadi lebih lunak terhadap dirinya.
“Dia tidak berpikir ini akan terjadi. Dia tidak berpikir dia akan menjilat pantat saya… dia pikir saya hanya akan menjadi presiden Amerika lainnya dari negara yang sedang mengalami kemunduran. Tapi sekarang dia harus bersikap baik kepada saya,” ujar Trump.
Kendati melontarkan kalimat pedas, Trump segera menetralisir suasana dengan memberikan pujian kepada MBS sebagai sosok yang cerdas. Ia pun sesumbar bahwa citra Amerika Serikat telah melesat jauh di bawah kepemimpinannya saat ini.
“Tapi Anda tahu dia (Putra Mahkota Salman) adalah orang yang cerdas, orang yang sangat biasa. Dia mengatakan setahun yang lalu, Anda adalah negara yang mati dan sekarang Anda benar-benar negara terpanas di dunia. Dan itu sebelum kita menghancurkan Iran,” tambahnya.
Momentum pernyataan Trump ini beriringan dengan laporan The New York Times yang mengeklaim bahwa secara personal, MBS mendorong Trump untuk terus menggempur Iran. Laporan itu menyebut sang Putra Mahkota melihat konflik ini sebagai “kesempatan bersejarah” untuk melumpuhkan Teheran, termasuk adanya dorongan untuk menyasar infrastruktur energi mereka.
Namun, Pemerintah Arab Saudi segera mengeluarkan bantahan resmi terkait tudingan tersebut. Pihak Riyadh menegaskan komitmen mereka pada penyelesaian damai dan menyatakan bahwa fokus utama kerajaan hanyalah pertahanan diri dari ancaman Iran.
Ketegangan masif antara Amerika Serikat dan Iran sendiri mulai meledak pada 28 Februari lalu. Saat itu, AS bersama Israel meluncurkan serangan udara ke sejumlah titik di wilayah Iran. Eskalasi ini mencapai puncaknya dengan laporan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.