IKNPOS.ID – Kebijakan pemerintah pada 2026 membawa kabar kurang menggembirakan bagi masyarakat. Program diskon tarif listrik yang sempat diberikan tahun lalu resmi dihentikan, sehingga berpotensi mendorong kenaikan inflasi.
Meski demikian, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, tetap optimistis terhadap kinerja ekonomi nasional. Ia meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa mencapai 5,5 persen, terutama didorong oleh meningkatnya aktivitas masyarakat selama Ramadan dan Lebaran.
Airlangga menjelaskan bahwa pada tahun sebelumnya, laju inflasi sempat tertahan berkat adanya diskon tarif listrik hingga 50 persen. Kebijakan tersebut membuat komponen biaya listrik mengalami penurunan.
Namun, pada tahun ini kebijakan tersebut tidak lagi diberlakukan.
“Tahun ini tidak ada (diskon listrik), berarti angkanya akan lebih tinggi,” ujar Airlangga kepada Disway dan media lainnya secara daring, pada Minggu (22/03).
Dengan berakhirnya subsidi tersebut, pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan listrik kembali normal. Kondisi ini dinilai akan memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski ada potensi kenaikan harga, pemerintah tetap percaya diri terhadap prospek ekonomi nasional. Airlangga menilai momentum Ramadan dan Lebaran menjadi pendorong utama konsumsi masyarakat.
“Target 5,5 persen bisa dicapai dari geliat selama Ramadhan,” katanya.
Peningkatan belanja, terutama untuk kebutuhan hari raya dan perjalanan mudik, diyakini mampu menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah menyiapkan berbagai stimulus pengganti yang difokuskan pada sektor transportasi dan bantuan sosial. Program tersebut meliputi diskon tiket pesawat, kereta api, dan kapal laut, potongan tarif tol selama musim mudik, serta bantuan pangan bagi jutaan keluarga.
Kebijakan ini diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat tetap kuat di tengah potensi kenaikan harga.
Pemerintah juga menilai bahwa lonjakan inflasi pasca-Lebaran masih berada dalam batas wajar dan tidak akan terlalu signifikan. Dengan dukungan konsumsi yang tetap tinggi serta berbagai stimulus ekonomi, target pertumbuhan 5,5 persen dinilai tetap realistis untuk dicapai.