IKNPOS.ID – Tiga unit jet tempur F-15E Strike Eagle kebanggaan Angkatan Udara Amerika Serikat mendadak lenyap dari radar, bukan karena serangan musuh.
Melainkan akibat “tragedi salah sasaran” yang memalukan sekaligus fatal. Di atas wilayah Kuwait, pertahanan udara sekutu—yang seharusnya menjadi perisai—justru menjadi mimpi buruk bagi pilot-pilot AS.
Dalam sebuah pernyataan resmi yang mengejutkan, Komando Pusat AS (Centcom) akhirnya mengakui insiden ini.
Ketiga pesawat tersebut ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Kuwait yang panik di tengah kekacauan serangan rudal dan drone yang membombardir kawasan tersebut.
Keenam awak pesawat berhasil melontarkan diri tepat waktu sebelum jet mereka berubah menjadi bola api di langit malam.
“Selama pertempuran aktif—yang mencakup serangan dari pesawat Iran, rudal balistik, dan drone—jet tempur Angkatan Udara AS secara tidak sengaja ditembak jatuh oleh pertahanan udara Kuwait,” ungkap pernyataan resmi Centcom.
Tragedi ini terjadi tepat di hari ketiga konflik yang dipicu oleh perintah Donald Trump dalam kampanye udara berskala besar bertajuk Operation Epic Fury.
Tanpa persetujuan Kongres, operasi ini memicu kekacauan regional yang luar biasa. Di tengah kepulan asap hitam yang membumbung di atas Al Jahra, rekaman video yang beredar memperlihatkan satu pilot yang selamat sedang dirawat oleh warga lokal, sebuah pemandangan yang kontras dengan hiruk-pikuk mesin perang di atas kepala mereka.
Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, mencoba meredam spekulasi dalam konferensi pers di Pentagon.
Meski bersyukur atas keselamatan para kru, ia menolak memberikan detail lebih lanjut, menyebut investigasi sedang berjalan.
Namun, di balik sikap dingin Pentagon, kekacauan yang terjadi di lapangan menunjukkan satu hal: koordinasi antar-sekutu di Timur Tengah sedang di ambang kehancuran.
Propaganda Iran dan Chaos Global
Situasi semakin keruh ketika media pemerintah Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memanfaatkan celah ini dengan mengklaim merekalah yang bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat-pesawat tersebut. Klaim ini memicu perang narasi di tengah ketegangan yang sudah memuncak.







