IKNPOS.ID – Di bawah guyuran rintik hujan pagi ini, Jumat (27/02/2026), Presiden Prabowo Subianto resmi mengakhiri maraton diplomasi internasionalnya.
Pesawat Garuda Indonesia-1 yang membawa Kepala Negara mendarat mulus di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, menandai selesainya rangkaian perjalanan dinas yang krusial bagi masa depan ekonomi dan stabilitas politik nasional.
Kedatangan Presiden disambut hangat oleh jajaran pimpinan tertinggi negara. Mulai Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, hingga petinggi TNI-Polri.
Meski cuaca sedang tidak bersahabat, suasana di apron bandara terasa penuh antusiasme, mencerminkan besarnya harapan publik atas hasil lawatan yang mencakup empat negara strategis: Amerika Serikat, Inggris, Yordania, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Dari Chip Semikonduktor hingga Perdamaian Global
Selama kurang lebih satu pekan, Presiden Prabowo menjalankan agenda yang sangat padat.
Bukan sekadar kunjungan kenegaraan biasa, setiap persinggahan memiliki misi spesifik yang berdampak langsung pada kepentingan nasional:
- Amerika Serikat (19 Februari 2026): Fokus pada penguatan hubungan ekonomi. Presiden tidak hanya menghadiri rapat Dewan Perdamaian, tetapi juga memborong agenda bersama para pengusaha raksasa AS untuk memastikan arus modal tetap masuk ke Indonesia.
- Inggris: Ini adalah poin krusial. Presiden menyaksikan langsung kesepakatan besar antara BPI Danantara dan Arm Limited. Ini adalah sinyal kuat bahwa Indonesia serius menggarap sektor teknologi masa depan melalui industri semikonduktor.
- Yordania: Presiden bertemu Raja Abdullah II dengan misi kemanusiaan. Fokusnya jelas: mendorong two-state solution untuk konflik Gaza dan memperkuat posisi Indonesia di mata dunia Islam.
- Uni Emirat Arab (UEA): Perjalanan ditutup dengan pertemuan bersama Presiden Mohammed bin Zayed Al Nahyan. Fokus utama adalah akselerasi investasi strategis yang diyakini akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di sisa tahun 2026.
Investasi dan Stabilitas: Fokus Utama Kabinet
Keberhasilan diplomasi ini menegaskan bahwa pemerintahan Prabowo memadukan dua pendekatan sekaligus: Hard Power dalam menarik investasi strategis seperti sektor teknologi (semikonduktor), dan Soft Power melalui kepemimpinan di isu-isu global seperti perdamaian di Palestina.






