Harapan besar sempat menyelimuti garasi hijau ketika mobil baru pertama kali muncul di lintasan uji. Dalam balutan warna hitam sementara, mobil tersebut terlihat agresif, berbeda, dan memancarkan sentuhan khas insinyur legendaris Adrian Newey. Namun hanya dalam hitungan hari, optimisme itu berubah menjadi tanda tanya besar.
Pada akhir rangkaian tes pramusim, Aston Martin F1 Team justru mencatatkan waktu paling lambat dan jumlah putaran paling sedikit dibanding rivalnya. Di dunia Formula 1, angka-angka tersebut jarang berbohong. Ketika tim lain fokus menyempurnakan performa, Aston Martin justru berkutat dengan reliabilitas dan ketidakstabilan mobil.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Proyek Ambisius yang Terlalu Banyak Berubah
Secara teori, Aston Martin memiliki semua bahan untuk sukses. Pemilik tim, Lawrence Stroll, telah menggelontorkan investasi besar: fasilitas baru yang modern, terowongan angin canggih, simulator mutakhir, serta kemitraan mesin pabrikan dengan Honda.
Masuknya Newey pada 2025 dipandang sebagai potongan terakhir dari puzzle. Rekam jejaknya berbicara sendiri. Ia sukses menciptakan mobil dominan untuk McLaren pada akhir 1990-an dan membawa Red Bull Racing mendominasi dua era berbeda regulasi.
Namun di Formula 1, stabilitas sering kali lebih penting daripada sekadar nama besar. Aston Martin justru mengalami pergantian kepemimpinan teknis dalam beberapa musim terakhir. Restrukturisasi internal dan pergeseran peran membuat proses pengembangan berjalan tidak linear. Ketika Newey tiba, ia dikabarkan memerintahkan perubahan konsep besar-besaran. Artinya, desain harus dimulai ulang sementara tim lain sudah melaju jauh lebih dulu.
Dalam kejuaraan sekompetitif ini, keterlambatan beberapa bulan dapat terasa seperti jarak satu musim penuh.
Mobil Ekstrem yang Belum Matang
Newey dikenal gemar mengeksplorasi interpretasi regulasi yang ekstrem. Mobil Aston Martin disebut sebagai salah satu desain paling berani menghadapi aturan aerodinamika baru menuju 2026. Namun keberanian desain membutuhkan waktu dan validasi data yang memadai.
Masalah muncul ketika mobil baru bahkan kesulitan menyelesaikan sesi uji tanpa gangguan. Reliabilitas menjadi isu utama. Ketika mobil jarang berada di lintasan, data yang dikumpulkan pun minim. Tanpa data, pengembangan terhambat. Tanpa pengembangan, performa sulit meningkat.
Para pembalap menggambarkan mobil sebagai sulit dikendalikan dan tidak konsisten. Dalam olahraga yang bergantung pada presisi hingga sepersekian detik, karakter mobil yang tidak stabil dapat menghancurkan kepercayaan diri pembalap.







