IKNPOS.ID – Bank Indonesia melaporkan bahwa jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) pada Januari 2026 mengalami peningkatan dibandingkan dengan posisi Desember 2025. Kondisi ini menandakan likuiditas perekonomian yang semakin longgar di awal tahun.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa M2 tumbuh 10,0 persen secara tahunan (y-o-y), lebih tinggi dari pertumbuhan Desember 2025 yang tercatat 9,6 persen (y-o-y). Dengan pertumbuhan tersebut, total M2 mencapai Rp10.117,8 triliun.
“Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,9 persen (y-o-y) dan uang kuasi sebesar 5,4 persen (y-o-y),” jelas Denny kepada media secara daring, Selasa (24/2/2026).
Menurutnya, peningkatan M2 pada Januari terutama dipicu oleh melonjaknya tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) serta ekspansi kredit perbankan. Sepanjang Januari 2026, kredit tumbuh 10,2 persen (y-o-y), meningkat dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 9,3 persen (y-o-y).
“Tagihan bersih kepada Pempus tumbuh sebesar 22,6 persen (y-o-y), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 13,6 persen (y-o-y),” tutur Denny.
Dari sisi dana masyarakat, simpanan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu tercatat Rp2.543,7 triliun atau naik 7,6 persen (y-o-y). Laju ini relatif stabil jika dibandingkan dengan Desember 2025 yang tumbuh 7,7 persen (y-o-y).
Adapun uang kuasi pada Januari 2026 tercatat sebesar Rp4.148,0 triliun, tumbuh 5,4 persen (y-o-y), sedikit melambat dari bulan sebelumnya yang sebesar 5,6 persen (y-o-y). Porsi uang kuasi terhadap total M2 mencapai 41,0 persen.
Perlambatan tersebut antara lain dipengaruhi oleh giro valuta asing yang mengalami kontraksi 0,7 persen (y-o-y), setelah pada Desember 2025 masih mencatat pertumbuhan 2,1 persen (y-o-y).







