finnews.id – Kembalinya Olivier Giroud ke LOSC Lille awalnya disambut dengan antusiasme besar. Setelah menolak kemungkinan pensiun dini di LA Galaxy, striker Prancis ini memutuskan untuk melanjutkan kariernya di Ligue 1, membuktikan bahwa ia masih memiliki ambisi untuk berkontribusi di level tertinggi. Musim panas lalu, ia tampil impresif dengan tiga gol dalam tiga laga pra-musim, diikuti oleh tiga gol lagi dalam lima pertandingan resmi awal, menunjukkan kombinasi kerja keras, kekuatan mental, dan pengalaman yang matang.
Namun, momentum ini tidak bertahan lama. Dalam 25 pertandingan berikutnya, Giroud hanya mencetak empat gol, dua di antaranya melalui penalti. Kondisi ini membuatnya mulai kehilangan tempat sebagai starter reguler, terutama karena persaingan dengan Jonathan David yang lebih produktif. Delapan pertandingan berturut-turut di Desember dan Januari membuatnya terlihat lelah, dan ia kemudian ditempatkan di bangku cadangan dalam tiga dari empat pertandingan terakhir, sebuah situasi yang belum pernah terjadi sejak ia bergabung dengan Lille.
Pelatih Bruno Genesio menegaskan bahwa kondisi fisik dan beban kerja Giroud memengaruhi performanya. “Dia perlu menemukan kembali kesegaran yang dimilikinya di awal musim. Karena itu ia kurang sering menjadi starter belakangan ini,” kata Genesio. Ia menambahkan bahwa Giroud tetap menjadi figur penting di tim, baik sebagai pemain starter maupun cadangan, dan memiliki kemampuan untuk bangkit dari masa sulit berdasarkan pengalaman panjangnya di level tinggi.
Ketua tim juga menyebutkan cedera serius Hamza Igamane yang mengubah rencana penggunaan Giroud. Rekan setimnya, Nathan Ngoy, menekankan pentingnya peran Giroud sebagai pemimpin di lapangan. “Meskipun dia bermain lebih sedikit, dia tetap sangat penting. Ia seorang juara dunia dan akan selalu berkontribusi,” ujar Ngoy.
Situasi ini semakin diperparah oleh respons publik. Pada 25 Januari, setelah kekalahan memalukan 1-4 dari Strasbourg, Giroud mendapat sorakan negatif dari penonton Pierre-Mauroy. Namun ia membalas dengan determinasi, mencetak penalti kemenangan 1-0 melawan Fribourg hanya empat hari kemudian, menunjukkan mental juara yang kuat.
Selain kompetisi domestik, Giroud memiliki catatan impresif di Liga Europa dengan 18 gol dalam 33 pertandingan. Sebagai juara pada 2019 bersama Chelsea, ia tetap menjadi salah satu pencetak gol tertua di kompetisi ini dan peluang untuk membuktikan diri kembali di Eropa tetap terbuka, termasuk menghadapi Étoile Rouge.
Saat ini, Giroud berada di titik penting dalam kariernya di Lille. Kontraknya akan berakhir Juni 2026, dan ia terbuka terhadap kemungkinan memperpanjang masa bakti jika klub dan dirinya sama-sama puas. Dalam wawancara Oktober lalu, ia menegaskan, “Saya ingin menikmati setiap momen dan siap untuk berhenti kapan saja. Jika saya bisa memberikan kontribusi dan klub puas, kita akan duduk bersama membahasnya.”
Masa sulit ini menunjukkan bahwa bahkan pemain berpengalaman seperti Giroud tidak lepas dari fluktuasi performa. Dukungan tim, pengalaman sebelumnya menghadapi tekanan, dan kesempatan di kompetisi Eropa menjadi kunci untuk bangkit kembali dan mengakhiri musi