IKNPOS.ID – Tumbuh di era digital membuat Generasi Z dikenal cepat beradaptasi, akrab dengan teknologi, dan sigap mempelajari hal baru. Namun di balik keunggulan itu, urusan mengatur uang masih jadi tantangan besar bagi sebagian anak muda.
Fenomena seperti gaji cepat habis, tabungan tak pernah terkumpul, hingga target keuangan yang kandas sebelum pertengahan tahun masih kerap terjadi. Kondisi ini bukan sekadar asumsi. Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Desember 2025 mencatat rasio tabungan terhadap pendapatan (saving to income ratio) berada di angka 14,9 persen. Meski naik tipis dari bulan sebelumnya, angka tersebut masih jauh dibanding porsi konsumsi yang mencapai 74,3 persen.
Data dari PT Bank Amar Indonesia Tbk. (Amar Bank) juga menunjukkan perilaku belanja impulsif masih tinggi, dipicu kemudahan transaksi digital.
“Satu klik langsung checkout belanja, satu swipe bayar, dan satu notifikasi promo bisa langsung menguras saldo,” tulis perwakilan Amar Bank kepada Disway.
Amar Bank pun memetakan tujuh kebiasaan yang sering menjadi sumber kesalahan Gen Z dalam mengelola keuangan:
1. Terlalu banyak target dalam satu waktu
Ingin menabung, mulai investasi, liburan, beli gadget baru, dan tetap hangout. Akibatnya, semua rencana hanya berhenti sebagai wacana karena tidak ada fokus utama.
2. Semua dana disatukan dalam satu rekening
Saldo terlihat aman, padahal tercampur antara uang kebutuhan harian, pembayaran tagihan, dan tabungan. Memisahkan rekening sesuai fungsi membantu membedakan mana uang operasional dan mana yang harus disimpan.
3. Menabung dari sisa uang
Bagi yang penghasilannya belum stabil, menunggu akhir bulan untuk menabung hampir pasti berujung nihil. Strategi lebih efektif adalah menyisihkan dana di awal saat gaji masuk, misalnya lewat fitur auto-transfer.
4. Resolusi tanpa angka pasti
Target seperti “lebih hemat” atau “rajin menabung” terdengar baik, tetapi tanpa nominal yang jelas, sulit mengukur keberhasilannya.
5. Menganggap penghasilan tambahan sebagai uang bebas
Bonus, THR, atau pendapatan sampingan kerap dianggap ekstra untuk dihabiskan. Padahal, dana tersebut bisa mempercepat pencapaian tujuan finansial jika dialihkan ke tabungan atau deposito.
6. Tidak memiliki dana darurat
Kondisi tak terduga seperti sakit atau perangkat kerja rusak bisa langsung mengacaukan rencana keuangan. Dana darurat berfungsi sebagai penyangga agar target jangka panjang tetap aman.
7. Menunda investasi karena merasa belum siap
Sebagian Gen Z menunggu gaji besar atau situasi ideal sebelum mulai berinvestasi. Padahal, memulai dari nominal kecil jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.
Pada akhirnya, membangun keuangan yang sehat tidak harus instan. Kuncinya adalah membuat sistem yang realistis dan konsisten: tetapkan prioritas, gunakan target berbasis angka, pisahkan pos keuangan, serta manfaatkan otomatisasi agar kebiasaan baik berjalan tanpa banyak godaan.







