IKNPOS.ID – Pembangunan fisik Istana Wakil Presiden di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, telah rampung 100 persen. Meski fisik gedung telah selesai, fokus kini bergeser ke penyempurnaan interior dan pengadaan mebel, yang akan melengkapi fungsi istana sebagai pusat pemerintahan.
Namun, yang membedakan Istana Wakil Presiden bukan hanya ukurannya atau kemegahannya, melainkan filosofi budaya yang melekat dalam desainnya. Gedung ini mengusung konsep “huma betang umai”, istilah dari bahasa Dayak yang berarti ibu sebagai pengayom, pelindung, pemberi, dan pemelihara. Bentuk rumah panggung panjang yang diangkat menjadi inspirasi arsitektur bukan hanya estetika, tetapi juga simbol perlindungan dan keseimbangan dalam kehidupan.
Rumah Panggung Dayak yang Menjadi Ikon Modern
Rumah panggung panjang merupakan ciri khas Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Dalam Istana Wakil Presiden, konsep ini dipadukan dengan teknologi modern. Orientasi bangunan mengikuti sumbu barat-timur untuk mengurangi paparan sinar matahari, sementara sistem pendingin udara hibrida memaksimalkan sirkulasi alami. Dengan demikian, bangunan tidak hanya mencerminkan kearifan lokal, tetapi juga hemat energi dan nyaman bagi penghuninya.
Desain ini menunjukkan bahwa kebudayaan lokal dapat berpadu harmonis dengan prinsip arsitektur modern. Bangunan yang besar dan megah tetap memancarkan kesederhanaan dan nilai-nilai tradisional yang menjadi akar masyarakat Kalimantan.
Interior dan Perabotan yang Menyempurnakan Fungsi Istana
Meski struktur bangunan sudah selesai, penyelesaian interior masih menjadi fokus utama. Sekretariat Negara bertanggung jawab atas pengadaan mebel dan perlengkapan istana agar selaras dengan filosofi rumah panggung Dayak, sambil tetap memenuhi standar kenyamanan modern.
Fokus ini menegaskan bahwa Istana Wakil Presiden bukan sekadar gedung pemerintahan, tetapi juga wadah penghargaan terhadap budaya lokal dan simbol integrasi antara tradisi dan modernitas.







