IKNPOS.ID – Pasar modal Indonesia sedang berada di titik nadir yang sangat krusial! Setelah babak belur dihajar sentimen negatif hingga anjlok 8,3% dalam dua hari terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya mencoba bangkit. IHSG melesat 1,2% pada perdagangan Jumat (30/1/2026) sebagai respon darurat atas ancaman mematikan dari penyedia indeks global, MSCI.
Pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bergerak secepat kilat melakukan reformasi regulasi untuk meredam kekhawatiran MSCI. Bayangkan, Indonesia nyaris diturunkan kasta menjadi “frontier market” alias pasar perbatasan jika transparansi kepemilikan saham tidak segera dibenahi. Meski hari ini menghijau, IHSG tetap bersiap mencatat penurunan mingguan terdalam dalam 11 bulan terakhir. Apakah ini waktu yang tepat untuk masuk atau justru jebakan batman?
OJK Tekan Gas Pol: Aturan Free Float 15% Jadi Harga Mati
Regulator pasar modal Indonesia tidak ingin main-main lagi. Langkah konkret diambil dengan memperjelas aturan free float serta mewajibkan pengungkapan pemilik manfaat akhir atau ultimate beneficial owners. Otoritas menetapkan ambang batas saham publik sebesar 15% guna menutup celah kredibilitas yang selama ini dipermasalahkan investor global.
“Respons Indonesia yang cepat dan terkoordinasi menegaskan komitmen regulator yang kuat serta kematangan pasar yang kian meningkat,” ujar Andrey Wijaya, Kepala Riset RHB Indonesia. Namun, ia mengingatkan bahwa volatilitas pasar kemungkinan besar masih menghantui hingga MSCI memberikan pernyataan resmi terkait metodologi barunya untuk pasar Indonesia.
Rupiah Terkapar Saat Dolar AS Mengganas Akibat Efek Trump
Di saat bursa saham berusaha pulih, mata uang garuda justru semakin tertekan. Rupiah melemah 0,2% dan menuju rekor penurunan bulanan ketiga berturut-turut. Pelemahan ini terjadi seiring dengan penguatan dolar AS yang dipicu oleh manuver Presiden AS Donald Trump terkait bursa calon Ketua Federal Reserve.
“Peralihan kejutan ke Kevin Warsh membuat pasar lengah, memicu pembalikan posisi secara luas lintas aset–termasuk logam mulia, aset kripto, dan saham–sementara dolar AS kembali menguat,” ungkap Christopher Wong, ahli strategi mata uang di OCBC.
Trump mengisyaratkan akan segera mengumumkan pengganti Jerome Powell, dan nama Kevin Warsh yang dikabarkan menyambangi Gedung Putih sukses membuat pasar uang global guncang. Ketidakpastian arah kebijakan bank sentral AS ini menjadi awan hitam bagi mata uang Asia yang baru saja ingin bernapas lega.
Nasib Pasar Asia: Korea Selatan Gemilang, Malaysia Tangguh
Kondisi pasar emerging market Asia sendiri bergerak bervariasi. Kontras dengan kegalauan di Jakarta, indeks KOSPI Korea Selatan justru mencatat kinerja bulanan terbaik dalam hampir tiga dekade berkat demam kecerdasan buatan (AI). Ringgit Malaysia pun tetap perkasa dengan kenaikan bulanan terbaik sejak September 2024, ditopang oleh fundamental ekonomi yang jauh lebih solid.







