IKNPOS.ID – Pasar keuangan Indonesia sedang dalam posisi siaga satu! Mata uang garuda terpaksa bertekuk lutut di hadapan keperkasaan Greenback pada perdagangan akhir Januari. Rupiah kini terperosok ke level Rp16.785 per dolar AS, dipicu oleh manuver politik Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang siap mengacak-acak tatanan bank sentral dunia.
Ketidakpastian ini bukan tanpa alasan. Trump memberikan kode keras bahwa ia akan segera mengumumkan nakhoda baru Federal Reserve (The Fed). Kabar ini langsung membuat indeks dolar AS “terbang”, sementara mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, harus rela menelan pil pahit akibat pelarian modal investor ke aset aman.
Kevin Warsh di Depan Mata: Ancaman bagi Independensi The Fed?
Nama Kevin Warsh mencuat sebagai kandidat terkuat pengisi kursi panas Ketua The Fed pilihan Trump. Sosok ini bukan orang asing, ia pernah kalah dari Jerome Powell pada 2017 silam. Penunjukan Warsh dianggap sebagai langkah Trump untuk memastikan kebijakan moneter AS sejalan dengan ambisinya, yakni pemangkasan suku bunga yang lebih agresif.
Pasar mulai cemas. Jika independensi bank sentral AS goyah demi kepentingan politik, volatilitas global bisa meledak kapan saja. Trump bahkan blak-blakan memberi sinyal positif kepada wartawan mengenai pilihannya tersebut. “Banyak orang berpikir bahwa ini adalah seseorang yang bisa berada di sana beberapa tahun yang lalu,” ujar Trump, memperkuat posisi Warsh sebagai calon tunggal.
Tensi Geopolitik Iran vs AS Memanas, Dolar Jadi Lindung Nilai
Tak hanya urusan suku bunga, ancaman militer Trump terhadap Iran turut memperkeruh suasana. Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Trump mendesak perundingan nuklir dengan ancaman serangan. Kabar pertemuan pejabat pertahanan AS, Israel, dan Arab Saudi di Washington semakin membakar sentimen negatif di pasar global.
“Pelemahan rupiah tidak terlepas dari menguatnya indeks dolar AS yang dipicu oleh sentimen kebijakan moneter Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik global,” jelas pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi dalam risetnya hari ini, Jumat (30/1/2026).
Bank Indonesia Pasang Badan: Cadangan Devisa Jadi Benteng
Menghadapi gempuran dari luar, Bank Indonesia (BI) tidak tinggal diam. BI memperkuat pengelolaan cadangan devisa sebagai bantalan krisis untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak meluncur lebih dalam. Langkah ini diambil dengan memantau ketat pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dinamika suku bunga global yang liar.







