IKNPOS.ID – Xabi Alonso hanya bertahan tujuh setengah bulan sebagai pelatih Real Madrid, meninggalkan banyak pertanyaan tentang mengapa seorang legenda klub tidak mampu menjalankan filosofi permainannya di Santiago Bernabeu.
Pundit sepak bola Guillem Balague menyoroti bahwa nasib Alonso bukan semata karena hasil di lapangan, tetapi lebih pada budaya klub dan struktur yang membatasi manajer. Alonso menghadapi tantangan yang sangat kompleks, mulai dari ketidakpercayaan manajemen hingga pemain yang lebih fokus pada kepentingan individu daripada kolektif.
Budaya Real Madrid dan Tekanan Manajemen
Balague menekankan bahwa Real Madrid adalah klub yang sulit dikelola sejak awal. Meskipun Alonso disetujui menjadi pelatih, Florentino Perez tidak sepenuhnya yakin dengan kepemimpinannya. Masalah muncul sejak penunjukan, termasuk perselisihan soal waktu mulai musim dan larangan untuk membahas turnamen Club World Cup sesuai rencananya. Klub juga mengabaikan permintaan perekrutan Alonso, seperti keinginannya untuk mendatangkan Martin Zubimendi, sementara pemain baru seperti Franco Mastantuono gagal memberikan dampak signifikan.
Selain itu, cedera pemain merusak lini pertahanan, sementara beberapa pemain kunci, termasuk Vinicius Junior dan Federico Valverde, lebih memprioritaskan posisi dan pencapaian pribadi. Mbappe, meski menjadi bintang, terkadang bermain untuk mengejar rekor ketimbang pemulihan dari cedera. Kondisi ini membuat Alonso sulit menegakkan filosofi permainan kolektif yang menekankan tekanan tinggi, tempo cepat, dan pengaturan posisi yang konsisten.
Hasil Tidak Selalu Menjadi Ukuran
Meski menghadapi hambatan, Real Madrid tidak sepenuhnya gagal di bawah Alonso. Tim lolos ke babak berikutnya Copa del Rey, berada empat poin di belakang Barcelona di La Liga, dan menang dalam pertemuan melawan rivalnya itu pada Oktober. Balague menekankan bahwa perpisahan Alonso lebih disebabkan ketidakpercayaan manajemen daripada performa tim, sehingga keputusan resmi klub menyebutnya sebagai “mutual agreement” tetap menutupi dinamika internal yang kompleks.
Balague menyimpulkan bahwa Real Madrid adalah contoh klub yang menolak transformasi dari manajer, di mana budaya lama dan kebiasaan individu pemain sering kali mengalahkan filosofi modern manajer. Alonso, bahkan sebagai legenda klub, menghadapi realitas bahwa mengubah mentalitas tim dan membangun kolektivitas di Bernabeu adalah tugas hampir mustahil, dan hal ini menjadi faktor utama nasib singkatnya di Madrid.







