Catatan Dahlan Iskan

Bandit Sosial

Catatan Dahlan Iskan

Share
Share

 

Fajar sangat lama menjadi wartawan ANTV. Tugas liputannya di Gedung Bundar, Kejaksaan Agung. Di situ Fajar, putra Muara Enim itu, punya partner Agus Muttaqin, anak buah saya kala itu. Setiap kali selesai konferensi pers, dua orang ini membuntuti pejabat Kejagung: wawancara khusus. Keduanya tidak mau hanya menulis berita dari apa yang diucapkan di konferensi pers. Mereka harus cari informasi tambahan yang eksklusif.

 

Dengan kebiasaan menjadi wartawan yang gigih, Fajar tidak merasa lelah menelusuri jejak Kusni Kasdut. Padahal ketika Kusni mengakhiri hidupnya di depan regu tembak, Fajar baru berusia enam tahun.

 

Fajar berhasil menemukan tetangga Kusni di Blitar: sudah berusia 76 tahun. Fajar juga menelusuri Gang Jangkrik di kota Malang. Di situlah masa anak-anak Kusni. Ikut ibunya yang sudah janda ditinggal mati suami. Dulunya di gang itulah pusat penjualan binatang jangkrik.

 

Tapi Gang Jangkrik sangat terkenal karena ada Depot Jangkrik –dengan bakmi babinya yang kondang di kalangan Tionghoa. Ada dua lagi depot masakan Tionghoa di gang itu –salah satunya halal. Sampai sekarang tiga-tiganya masih ada.

Ketika Kusni memasuki masa remaja, Jepang menjajah Indonesia. Kusni masuk Heiho –tentara bantu Jepang.

 

Setelah Jepang kalah, Kusni bergabung ke kelompok pejuang anti penjajahan Belanda. Ia berpindah-pindah. Ketika di Madiun masuk ke brigade Teratai.

 

Di Surabaya ia pernah mendapat tugas merampok orang kaya di Surabaya. Hasilnya untuk dana perjuangan. Ia juga mengaku sempat tergabung ke dalam Tentara Rakyat Indonesia Pelajar, TRIP, di bawah komando Mas Isman –ayah Hayono Isman, mantan menpora.

 

Ketika Indonesia merdeka nasib Kusni termasuk yang kurang baik. Ia tidak memenuhi syarat tergabung ke pasukan resmi Tentara Nasional Indonesia. Tidak semua tentara rakyat memenuhi syarat tergabung ke TNI. Salah satunya: Kusni –karea punya sedikit cacat di kaki.

 

Tidak hanya Kusni. Banyak sekali bekas pejuang yang tersisih. Termasuk yang mengaku-ngaku pejuang –tidak ada yang kenal di medan tempur mana mereka melawan Belanda. Kekecewaan meluas. Menimbulkan ketegangan di mana-mana. Termasuk seperti yang tergambar dalam film Jenderal Nagabonar.

Share
Related Articles
Catatan Dahlan Iskan

Kelapa Gading

Catatan Dahlan Iskan

Catatan Dahlan Iskan

VVIP Selamanya?

Catatan Dahlan Iskan

Catatan Dahlan Iskan

Istana Garuda

Catatan Dahlan Iskan

Catatan Dahlan Iskan

Langit Sumur

Catatan Dahlan iskan