Pelabuhan di situ dikhususkan untuk pelabuhan ekspor minyak. Pelabuhannya sangat besar. Sangat dalam. Bisa disandari kapal supertanker.
Di pulau yang besarnya sepertiga pulau Manhattan itu juga ada landasan pesawat terbang. Di tengahnya ada batalyon militer untuk mengamankan seluruh pulau.
Tentu di saat pasukan Amerika mulai melakukan pendaratan besar-besaran di pantainya, batalyon militer itu akan dibom lebih dulu. Atau dihancurkan lewat udara.
Pulau itu –dan industri minyak itu– akan dikuasai dan diduduki Amerika. Tentu tergantung bentuk dan besarnya perlawanan yang dilakukan batalyon di situ. Juga apakah akan ada tambahan pasukan Iran dari darat –kalau jalurnya belum diblokade Amerika.
Memang, seandainya pun Amerika berhasil menguasai pulau itu: lalu mau apa? Tentu industri minyak Iran lumpuh. Tapi tidak berarti bisa menguasai Iran.
Tentu bukan berarti tidak ada gunanya bagi Amerika. Amerika bisa membuka selat Hormuz bagi kapal-kapal minyak yang akan menuju Eropa, Jepang, India, Korea, dan Tiongkok. Amerika bisa memajaki mereka.
Tidak ada lagi yang bisa dibayangkan untuk langkah minggu kedua, ketiga dan keempat: seperti apa. Yang bisa ia impikan adalah langsung ke minggu kelima: perayaan kemenangan besar-besaran.
Kalau bisa menang.
Iran bukan Venezuela atau Panama. Iran telah berhasil menghancurkan pesawat AWACS milik AS –seharga Rp 5 triliun. Padahal Anda sudah tahu apa itu pesawat AWACS: mata dan otak militer AS di udara.
Iran sulit dikalahkan. Tidak bisa digusur begitu saja.
Negara Iran sudah ada di situ sejak ribuan tahun lalu –dan saya tidak pernah mendengar negara itu punya rencana akan pindah ke tengah-tengahnya Amerika. (Dahlan Iskan)