Home News Pertahanan Jebol! Mahasiswa Paksa Gulung Kawat Berduri, Ribuan Massa Kini Kuasai Halaman Kantor Gubernur Kaltim
NewsPemerintahan

Pertahanan Jebol! Mahasiswa Paksa Gulung Kawat Berduri, Ribuan Massa Kini Kuasai Halaman Kantor Gubernur Kaltim

demo 21 april

Share
Ribuan massa aksi didominasi elemen mahasiswa berhasil menggulung paksa kawat berduri yang membatasi akses menuju Kantor Gubernur Kaltim.
Ribuan massa aksi didominasi elemen mahasiswa berhasil menggulung paksa kawat berduri yang membatasi akses menuju Kantor Gubernur Kaltim.
Share

Gelombang aksi unjuk rasa mahasiswa dan elemen masyarakat di Kalimantan Timur terus berlanjut, Selasa (21/4/2026). Setelah menyampaikan aspirasi dan mencapai kesepakatan dengan DPRD Kaltim, ribuan massa bergerak menuju Kantor Gubernur Kalimantan Timur untuk melanjutkan tekanan terhadap pemerintah daerah.

Sekitar pukul 14.00 Wita, usai melaksanakan istirahat, salat, dan makan (isoma) di kawasan Islamic Center Samarinda, massa yang diperkirakan berjumlah sekitar 7.000 orang kembali memadati ruas jalan menuju Kantor Gubernur Kaltim. Arus massa bergerak secara terkoordinasi dengan pengawalan aparat keamanan, membawa spanduk, poster, serta atribut organisasi masing-masing.

Setibanya di depan Kantor Gubernur, massa langsung menggelar aksi lanjutan. Mereka secara bergantian menyampaikan orasi diatas mobil komando, menegaskan kembali tiga tuntutan utama, yakni audit menyeluruh kebijakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, penghentian praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta mendesak transparansi dan akuntabilitas pemerintahan.

Suasana aksi sempat memanas ketika massa berhadapan dengan barikade pengamanan berupa pagar kawat berduri yang dipasang mengelilingi area kantor gubernur.

Pagar tersebut sebelumnya dipasang sebagai langkah antisipasi oleh pemerintah daerah untuk mencegah massa masuk ke area dalam kantor.

Dalam dinamika aksi, mahasiswa yang berada di barisan depan akhirnya berhasil menggulung pagar kawat berduri tersebut.

Aksi itu disambut sorak massa yang menganggapnya sebagai simbol terbukanya ruang dialog antara pemerintah dan rakyat. Meski sempat terjadi dorong-dorongan, situasi secara umum masih dapat dikendalikan oleh aparat keamanan yang berjaga di lokasi.

Koordinator lapangan aksi dalam orasinya menyatakan bahwa keberhasilan membuka pagar tersebut bukan semata tindakan fisik, melainkan bentuk perlawanan terhadap pembatasan ruang aspirasi masyarakat.

“Ini bukan hanya soal pagar, tapi tentang keterbukaan pemerintah dalam menerima suara rakyat. Kami ingin didengar, bukan dihalangi,” tegas salah satu orator.

Share