Pemprov Kaltim dan Pemkot Samarinda pun tak tinggal diam. Dukungan infrastruktur jalan, dermaga wisata di tepian sungai, hingga promosi masif di level internasional terus digencarkan. Tujuan satu: menjadikan Kampung Tenun sebagai top-of-mind destinasi wisata budaya di Kalimantan.
“Pariwisata yang tangguh adalah pariwisata yang mampu menggerakkan roda perekonomian rakyat melalui digitalisasi tanpa sedikitpun mencabut akar budayanya.”
Dampak Sosial: Melahirkan Generasi Baru Pengrajin
Salah satu tantangan terbesar adalah regenerasi. Melalui penguatan ekosistem ini, profesi pengrajin tenun kini diposisikan sebagai pilar ekonomi kreatif yang menjanjikan secara finansial. Dengan masuknya teknologi dan akses permodalan dari perbankan, diharapkan generasi muda Samarinda kembali melirik seni pinjaman sebagai karir masa depan yang diterima.
Sinergi antara otoritas moneter dan pemerintah daerah ini menjadi cetak biru (blue print ) bagi pengembangan desa wisata lainnya di Indonesia. Kampung Tenun Samarinda kini bukan lagi sekedar tempat produksi kain, melainkan simbol kebangkitan ekonomi berbasis kearifan lokal yang didorong oleh kekuatan teknologi digital.