“Tahun lalu saya yang menerima pialanya,” ujar Jayanti Zainal, pimpinan di contact center BCA Foresta. Nama tepat jabatannyi: Vice President Digital Services.

Dia wanita lulusan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Pun S-2nyi: computer science. Kelahirannyi Kendari, sukunyi Bugis.
“S-2 saya berkat beasiswa BCA,” katanyi.
Tiap tahun BCA memang memberi beasiswa untuk karyawannya. Khusus S-2 kuotanya 25 orang: karyawan level bawah-menengah 20 orang, level atas 5 orang.
Tiap tahun pula karyawan BCA yang sudah punya masa kerja lima tahun memasuki war. Mereka memperebutkan beasiswa itu lewat prestasi kerja. Jayanti termasuk yang memenangkan war tahun itu.
Setiap kali mengikuti kejuaraan BCA mengirim tim 14 orang. Tahun lalu tim itu dipimpin Jayanti. Tidak hanya untuk menerima piala tapi juga untuk “bertempur” di sana. Lima hari mereka di medan pertempuran itu. Lawannya bank-bank besar empat benua.
Di sana tidak ada lagi lawan dari bank-bank besar Singapura, Hong Kong, Tiongkok, Australia, maupun Jepang. Semua itu sudah mereka kalahkan di saat lomba tingkat Asia Pasifik.
Di tingkat dunia BCA datang sebagai juara Asia Pasifik –melawan juara-juara Eropa, Afrika, Amerika, dan Amerika Latin.
Di forum itu Jayanti juga harus presentasi selama 20 menit. Lalu harus bisa menjawab pertanyaan dari siapa pun di situ: dari juri maupun dari peserta benua lain.
Orang tua Jayanti seorang pedagang pakaian di Kendari. Sang ayah punya toko: Sinar Jaya.
“Apakah nama Jayanti diambil dari nama toko ayahanda?” tanya saya.
“Hahaha….,” hanya itu jawabnyi.
Dengan tawanyi, Jayanti naik kelas: dari lima i ke enam i. Badannyi langsing berisi. Posturnyi tinggi. Dia gabungan antara kelembutan wanita dan ketegasan orang Bugis. Suaminyi dari Palembang.
“Benar diambil dari nama toko? begitu?” saya balik lagi bertanya soal nama.
“Tidak tahu,” katanyi. “Tapi, waktu saya ke India orang di sana bilang Jayanti itu bahasa Hindi, artinya ratu kemenangan,” tambahnyi.