IKNPOS.ID – Potensi raksasa perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini diarahkan untuk menjadi motor penggerak baru di sektor peternakan. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim secara agresif mengajak perusahaan-perusahaan besar swasta (PBS) untuk mengoptimalkan sistem integrasi sapi-sawit.
“Potensinya sangat besar. Kalau perusahaan mau mendukung ini, saya sangat yakin kita bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan daging dan harganya bisa lebih murah dari sekarang,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotawaringin Timur, Yephi Hartady di Sampit, Jumat.
Harapan itu disampaikan Yephi di hadapan puluhan perwakilan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sengaja mengundang perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk berkoordinasi terkait optimalisasi pengembangan sapi melalui Siska.
Langkah ini dinilai sebagai strategi “dua jalur” yang tidak hanya memperkuat ketahanan pangan daerah, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional perkebunan melalui pemanfaatan limbah dan pupuk alami.
Konsep integrasi ini menawarkan simbiosis mutualisme yang nyata. Perusahaan dapat memanfaatkan kotoran sapi sebagai pupuk organik berkualitas tinggi guna menekan biaya input kimia, sementara lahan di bawah tegakan sawit menjadi area penggembalaan yang luas dengan pakan melimpah dari gulma dan limbah pelepah.
Saat ini harga daging sapi di Sampit Rp140.000 per kilogram, bahkan usai Lebaran Idul Fitri lalu sempat mencapai Rp170.000 per kilogram. Tingginya harga daging sapi disebabkan sebagian kebutuhan sapi di daerah ini masih dipasok dari luar daerah seperti Kalimantan Selatan, Jawa dan lainnya.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian Yephi sejak dilantik menjadi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan pada Februari lalu. Untuk itu dia mencoba mengajak perusahaan besar perkebunan kelapa sawit untuk mengoptimalkan program Siska.
Program ini diakui sudah ada cukup lama, bahkan saat ini sudah ada sejumlah perusahaan sawit yang menjalankan integritas sapi-sawit. Namun menurutnya, program ini perlu dioptimalkan agar Kotawaringin Timur bisa mandiri, bahkan swasembada daging sapi.