Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Alimuddin, menegaskan bahwa kehadiran Bubur Nusantara bukan tanpa alasan.
Menurutnya, kuliner lokal perlu diberi ruang di IKN agar identitas daerah tetap terjaga di tengah modernisasi.
“Kami ingin kearifan lokal Kalimantan Timur semakin dikenal luas. Masjid Negara ini kami upayakan menjadi simbol harmonisasi dan keberagaman,” ujarnya.
Langkah ini menjadi bukti bahwa pembangunan Nusantara tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada nilai budaya dan sosial masyarakatnya.
Di kota yang sedang bertransformasi menjadi wajah baru Indonesia, semangkuk bubur hangat memiliki makna lebih dalam. Ia menjadi pengingat keberagaman adalah fondasi utama Nusantara.
Tak ada perbedaan jabatan, suku, atau agama saat waktu berbuka tiba. Semua duduk sejajar, menikmati hidangan yang sama, berbagi cerita di bawah satu atap masjid.
Dalam kesederhanaannya, Bubur Nusantara membuktikan bahwa persatuan bisa dirayakan dengan cara yang paling sederhana: berbagi makanan dan waktu bersama.







