IKNPOS.ID – Musim 2026 menjadi panggung pembuktian bagi Lewis Hamilton. Setelah menjalani musim debut yang mengecewakan bersama Ferrari, juara dunia tujuh kali itu datang dengan janji tegas: tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi menahan diri.
Tahun pertama Hamilton berseragam merah memang jauh dari ekspektasi. Untuk pertama kalinya sepanjang kariernya di Formula 1, ia gagal meraih satu pun podium grand prix dalam satu musim penuh. Situasi tersebut memicu spekulasi tentang masa depannya, terlebih usianya kini telah menginjak 41 tahun dan memasuki musim ke-20 di ajang balap paling elit tersebut.
Namun alih-alih terpuruk, Hamilton justru memilih bangkit.
Refleksi Dua Dekade di Formula 1
Menjelang dimulainya musim 2026, yang dibuka lewat Grand Prix Australia, Hamilton menuliskan refleksi panjang tentang perjalanan 20 tahunnya di Formula 1. Dalam pesannya, ia menegaskan bahwa semangatnya belum padam.
Ia menyatakan bahwa perjalanan panjangnya dimulai dari mimpi yang dulu dianggap mustahil. Mimpi itu, katanya, tak pernah berubah dan tak pernah berhenti ia kejar. Ia juga mengakui perjalanan tersebut dipenuhi kesalahan, jatuh bangun, dan kritik, namun semua itu justru membentuknya menjadi pribadi yang lebih kuat.
Hamilton menegaskan bahwa keyakinan adalah fondasi utama seorang pembalap. Ia menyampaikan bahwa akan selalu ada pihak yang meragukan atau mencoba menghalangi, tetapi perjuangan tidak boleh berhenti. Pesan itu terdengar seperti pernyataan perang menjelang musim baru.
Yang paling menarik adalah kalimat penutupnya: ia masih berdiri, masih lapar, masih fokus pada mimpinya, dan tidak akan menahan diri.
Tekanan dan Tantangan di Ferrari
Musim debut Hamilton di Ferrari memang tidak berjalan sesuai rencana. Ia dikalahkan secara meyakinkan oleh rekan setimnya, Charles Leclerc. Performa yang tidak konsisten serta sejumlah komentar bernada frustrasi membuat banyak pihak mempertanyakan apakah kepindahannya ke Ferrari adalah keputusan yang tepat.
Namun pramusim 2026 membawa nuansa berbeda. Ferrari menunjukkan sinyal positif lewat pengembangan mobil yang dinilai lebih inovatif dibanding beberapa musim terakhir. Regulasi baru yang mulai berlaku musim ini juga diyakini bisa memberi peluang bagi pembalap berpengalaman seperti Hamilton untuk memaksimalkan kemampuannya.
Mantan pembalap F1, Martin Brundle, bahkan memprediksi Hamilton dapat kembali bersaing dalam perebutan gelar. Ia menilai bahwa Hamilton tampak lebih bahagia dan pembalap yang bahagia selalu menjadi pembalap yang cepat.
Optimisme tersebut tentu harus dibuktikan di lintasan. Tantangan terbesar Hamilton bukan hanya rival dari tim lain, tetapi juga Leclerc yang semakin matang dan konsisten.