“Khusus sapi potong masih menjadi pekerjaan rumah karena produksi lokal hanya mencukupi sekitar 60 persen. Sisanya sekitar 40 persen dipasok dari Pulau Jawa dan Madura, termasuk dalam bentuk daging beku,” tegas Ignatius. Ketergantungan terhadap suplai antarpulau ini menempatkan Kalbar pada posisi yang rentan terhadap fluktuasi biaya logistik dan distribusi.
Ketidakseimbangan antara pertumbuhan produksi lokal dengan ekskalasi permintaan tahunan, terutama saat momentum Lebaran, mengharuskan pemerintah untuk tetap mengandalkan pasokan dari luar wilayah demi menjaga stabilitas stok di pasar-pasar tradisional maupun modern.
Waspada Lonjakan Permintaan Musiman dan Program MBG
Masyarakat perlu memahami bahwa situasi aman dalam skala tahunan tidak menutup kemungkinan terjadinya defisit jangka pendek. Periode Ramadhan dan menjelang Idul Fitri selalu identik dengan anomali permintaan yang melampaui kapasitas distribusi harian. Selain itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut menjadi faktor baru yang mengerek angka konsumsi protein hewani di daerah.
“Dalam situasi musiman seperti puasa dan menjelang lebaran, lonjakan permintaan memang kerap terjadi dan dapat menyebabkan defisit sementara. Tetapi kami optimistis kebutuhan tetap bisa dipenuhi,” tambahnya. Pemerintah daerah terus melakukan monitoring ketat untuk memastikan rantai pasok tetap terjaga hingga hari kemenangan tiba.
Tips Cerdas: Pastikan Produk Daging Memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV)
Selain aspek kuantitas, jaminan keamanan pangan menjadi hal krusial yang harus diperhatikan konsumen. Ignatius mengimbau masyarakat untuk lebih selektif saat membeli produk daging, terutama daging beku yang berasal dari luar daerah atau impor. Integritas produk pangan hewani dapat divalidasi melalui kepemilikan Nomor Kontrol Veteriner (NKV).
“Masyarakat sebaiknya memastikan produk memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV). Produk ber-NKV umumnya telah melewati proses higienis dan pengawasan sesuai standar keamanan pangan,” tutupnya. Dengan memilih produk yang bersertifikasi, warga tidak hanya mendapatkan nutrisi terbaik, tetapi juga terhindar dari risiko penyakit yang mungkin terbawa oleh produk yang tidak terstandarisasi. – ANTARA –